Internationalmedia.co.id melaporkan pernyataan mengejutkan dari Israel terkait pengumuman PBB tentang bencana kelaparan di Gaza. Tel Aviv dengan tegas membantah klaim tersebut, menyebut laporan PBB sebagai "kebohongan Hamas" yang dimanipulasi oleh organisasi-organisasi tertentu. Pernyataan ini muncul setelah panel Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB menyatakan adanya kelaparan di Gaza, bahkan memproyeksikan meluasnya bencana ini ke wilayah lain di Palestina pada akhir September.
Kementerian Luar Negeri Israel dalam rilis resminya menyatakan, "Tidak ada kelaparan di Gaza." Mereka menekankan bahwa bantuan pangan besar-besaran telah masuk ke Gaza, mengakibatkan penurunan harga pangan secara signifikan. Laporan IPC, menurut Israel, hanyalah "dokumen politik yang tercela" dan akan diabaikan. Senada dengan Kementerian Luar Negeri, COGAT, badan pengawas urusan sipil Palestina di bawah Kementerian Pertahanan Israel, juga menolak keras laporan tersebut. COGAT menyebut laporan IPC tidak akurat dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan, menuding laporan tersebut mengabaikan upaya stabilisasi kemanusiaan di Gaza dan hanya mengandalkan "data parsial".

Berbeda dengan klaim Israel, PBB secara resmi mengumumkan bencana kelaparan di Gaza, menyatakan sedikitnya 500.000 orang menghadapi krisis kelaparan yang parah. Ini merupakan peristiwa pertama kalinya PBB menyatakan bencana kelaparan di Timur Tengah. Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, mengatakan bencana ini sebenarnya dapat dicegah, namun terhambat oleh "hambatan sistematis oleh Israel" yang mencegah akses makanan ke daerah kantong Palestina. Pernyataan saling bertolak belakang ini menimbulkan pertanyaan besar tentang situasi kemanusiaan yang sebenarnya di Gaza, di tengah konflik yang berkepanjangan. Pernyataan mana yang benar? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan.
