Gejolak geopolitik kembali mengguncang panggung dunia, sementara kisah-kisah unik juga turut mewarnai pemberitaan. Pada Kamis (28/5/2026), Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat sebagai respons atas agresi AS di wilayah selatan Iran, menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang terus membara di Timur Tengah. Kabar ini menjadi salah satu sorotan utama, seperti yang dihimpun oleh Internationalmedia.co.id – News.
Serangan balasan IRGC, yang terjadi pada pukul 04:50 pagi waktu setempat (0120 GMT), diklaim menargetkan pangkalan udara Amerika yang diyakini menjadi sumber serangan proyektil udara terhadap lokasi di pinggiran Bandara Bandar Abbas. Meskipun detail lokasi pangkalan tersebut tidak diungkapkan, otoritas Kuwait, sekutu AS, juga melaporkan respons terhadap serangan rudal dan drone pada Kamis pagi waktu setempat, mengindikasikan dampak yang lebih luas dari insiden tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah keyakinan IRGC bahwa kemungkinan perang skala penuh dengan AS masih kecil, meskipun mereka menegaskan kesiapan penuh untuk menanggapi setiap provokasi. Sebelumnya, Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata yang telah berlaku sejak April, menyusul pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari yang melibatkan AS-Israel melawan Iran, memicu kekacauan di pasar energi global.
Tidak kalah mengejutkan, dari sisi kebijakan luar negeri AS, Presiden Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Oman. Trump menyatakan akan menggunakan kekuatan militer dan "memperlakukan Oman seperti negara lain" atau bahkan "meledakkannya" jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Pernyataan kontroversial ini muncul saat Trump menanggapi pertanyaan reporter mengenai gagasan Oman dan Iran mengawasi perdagangan di Selat Hormuz, jalur vital yang menangani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global.
Sementara itu, ketegangan juga merayap di Laut China Selatan. Militer China mengumumkan telah mengusir sebuah kapal perang Angkatan Laut Belanda, fregat De Ruyter, yang dituduh "melanggar secara ilegal" wilayah sekitar Kepulauan Paracel. Beijing mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, meskipun putusan internasional tahun 2016 menolak klaim tersebut, memicu friksi dengan negara-negara tetangga. China menuding kapal Belanda berulang kali meluncurkan helikopter yang melanggar wilayah udara mereka.
Di tengah riuhnya berita geopolitik, sebuah kisah unik datang dari Bangladesh. Seekor kerbau albino seberat 700 kilogram, yang dijuluki "Donald Trump" karena jambul rambut pirang kemerahannya yang khas, berhasil lolos dari penyembelihan saat perayaan Idul Adha. Kerbau yang semula dijadwalkan untuk kurban ini menjadi viral dan kini akan dirawat di kebun binatang nasional. Kisah ini menjadi secercah humor di tengah hiruk pikuk berita global yang disajikan oleh internationalmedia.co.id.
