Ketegangan diplomatik antara Kuwait dan Iran memuncak menyusul insiden serangan drone terhadap Bandara Internasional Kuwait. Sebagai respons tegas, pemerintah Kuwait secara resmi meminta dua staf Kedutaan Besar Iran untuk segera meninggalkan wilayahnya dalam waktu 24 jam. Keputusan ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, menandai eskalasi serius dalam hubungan kedua negara.
Insiden yang memicu kemarahan Kuwait tersebut terjadi pada hari Rabu pagi waktu setempat, ketika sebuah drone yang diidentifikasi berasal dari Iran menghantam Terminal Satu Bandara Internasional Kuwait. Serangan mendadak ini tidak hanya menyebabkan kerusakan material yang signifikan pada bangunan terminal, tetapi juga menelan korban jiwa satu orang serta melukai puluhan lainnya. Akibatnya, otoritas penerbangan sipil Kuwait terpaksa menangguhkan seluruh lalu lintas udara di bandara tersebut, mengalihkan penerbangan yang datang ke bandara alternatif.

Menanggapi agresi tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait, Hamad Suleiman Al-Mashaan, segera memanggil kuasa usaha Iran di Kuwait, Hamed Yaqoubi Far. Dalam pertemuan tersebut, sebuah nota protes resmi disampaikan, yang tidak hanya mengecam keras serangan drone tetapi juga menuntut pengurangan jumlah staf Kedutaan Besar Iran di Kuwait. Lebih lanjut, dua anggota misi diplomatik Iran dinyatakan sebagai persona non grata, atau individu yang tidak diinginkan, dengan perintah tegas untuk meninggalkan negara itu dalam kurun waktu 24 jam.
Di tengah ketegangan ini, Kementerian Luar Negeri Kuwait juga secara tegas membantah klaim Iran yang menuduh wilayah atau ruang udaranya digunakan oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Dalam pernyataan resminya, Kuwait menegaskan penolakan keras terhadap penggunaan wilayahnya untuk tindakan permusuhan terhadap negara manapun, seraya menekankan bahwa tuduhan Iran tersebut "tidak berdasar dan tidak didukung oleh bukti".
Brigadir Jenderal Saud Abdulaziz Al-Atwan, juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, mengecam insiden ini sebagai "agresi kriminal Iran" yang tidak hanya menyebabkan "kerusakan material signifikan" pada fasilitas bandara tetapi juga menimbulkan korban. Meskipun rincian pasti jumlah korban luka tidak disebutkan, Al-Atwan memastikan bahwa mereka yang terluka telah menerima penanganan medis yang diperlukan. Laporan dari kantor berita Kuwait juga mengonfirmasi bahwa penutupan sementara Bandara Internasional Kuwait dan pengalihan penerbangan dilakukan sebagai langkah darurat pasca-serangan di Terminal Satu yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan parah.
