Insiden memilukan terjadi di perbatasan Lebanon-Israel. Internationalmedia.co.id melaporkan, sebuah drone Israel dilaporkan meledak di wilayah Lebanon selatan, menewaskan dua tentara Lebanon dan melukai dua lainnya. Kejadian ini menimbulkan ketegangan baru di kawasan yang rawan konflik tersebut.
Militer Lebanon menyatakan, drone tersebut jatuh di area Ras al-Naqoura pada Kamis (28/8). Saat diperiksa personel militer Lebanon, drone itu tiba-tiba meledak. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras insiden ini dan menyatakan bahwa militer Lebanon kembali harus membayar harga mahal demi menjaga stabilitas di wilayah selatan.

Dalam pernyataan resmi Jumat (29/8), militer Israel mengakui insiden tersebut dan menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban jiwa di pihak Lebanon. Mereka menyatakan insiden ini disebabkan oleh malfungsi teknis pada drone yang diluncurkan untuk menargetkan infrastruktur Hizbullah. Awalnya, militer Israel hanya mengakui adanya luka-luka di pihak Lebanon, namun kemudian mengakui jatuhnya korban jiwa.
Militer Israel menegaskan bahwa drone tersebut ditujukan untuk menargetkan situs Hizbullah yang sedang dibangun kembali, sebuah tindakan yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat. Mereka menekankan bahwa targetnya bukanlah tentara Lebanon. Sebuah penyelidikan internal pun telah dibuka untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Gencatan senjata yang berlaku sejak November lalu telah menempatkan militer Lebanon di wilayah selatan untuk membongkar infrastruktur Hizbullah, dibantu oleh pasukan penjaga perdamaian PBB. Meskipun demikian, Israel masih mempertahankan pasukannya di beberapa area strategis. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di masa mendatang.

