Keadaan di Jalur Gaza semakin memprihatinkan. Internationalmedia.co.id melaporkan, para tenaga medis dan pekerja kemanusiaan di sana, termasuk staf UNRWA, dilaporkan pingsan saat bertugas karena kelaparan dan kelelahan ekstrem. Informasi ini disampaikan langsung oleh Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss.
Lazzarini menggambarkan situasi tersebut sebagai "neraka di bumi", di mana tak ada tempat yang aman. Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi para pekerja kemanusiaan yang juga menjadi korban krisis kemanusiaan akibat perang. "Para dokter, perawat, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan, termasuk staf UNRWA, mengalami kelaparan," ujarnya. "Banyak dari mereka yang pingsan karena kelaparan dan kelelahan saat bertugas."

Situasi ini diperparah oleh blokade total yang diberlakukan Israel sejak Maret lalu, setelah perundingan gencatan senjata gagal. Meskipun sedikit bantuan kemanusiaan mulai masuk pada akhir Mei, UNRWA melaporkan lonjakan harga pangan hingga 40 kali lipat. Ironisnya, gudang-gudang UNRWA di luar Gaza memiliki cukup persediaan makanan untuk memberi makan seluruh penduduk selama lebih dari tiga bulan.
Data Kementerian Kesehatan Gaza, yang dianggap kredibel oleh PBB, mencatat angka kematian yang mengerikan: hampir 59.000 orang tewas sejak perang dimulai Oktober 2023. UNRWA memperkirakan setidaknya 1.000 orang meninggal karena kelaparan saat mencari bantuan makanan sejak akhir Mei. Krisis kemanusiaan di Gaza semakin mendesak dan membutuhkan perhatian dunia.
