Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Hanya berselang beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, Israel melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon pada Kamis (4/6). Internationalmedia.co.id – News melaporkan, media resmi Lebanon mengonfirmasi insiden ini, memicu kekhawatiran akan runtuhnya upaya perdamaian yang baru saja disepakati.
Kantor berita nasional Lebanon, National News Agency (NNA), yang dikutip oleh AFP, merinci bahwa serangan drone terjadi di sepanjang sejumlah jalan di Lebanon selatan. Laporan awal mengindikasikan setidaknya satu serangan menyebabkan korban jiwa, menambah daftar panjang penderitaan di wilayah tersebut.

Padahal, sehari sebelumnya, pada Rabu (3/6) waktu setempat di Washington, sebuah terobosan diplomatik sempat tercapai. Israel dan Lebanon, melalui putaran keempat pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat, menyepakati gencatan senjata bersyarat. Kesepakatan tersebut mensyaratkan "penghentian total" serangan dari kelompok milisi Hizbullah yang didukung Iran. Selain itu, kedua belah pihak, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, juga setuju untuk membentuk "zona percontohan" di mana angkatan bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif, menyingkirkan semua aktor non-negara.
Namun, optimisme terhadap kesepakatan ini telah diragukan sejak awal. Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, secara terang-terangan mengkritik perjanjian tersebut, menyebutnya sebagai "kesalahan serius". Bahkan, pada Kamis pagi, sebelum pengumuman gencatan senjata, Hizbullah dilaporkan telah meluncurkan "rentetan roket" ke arah tentara dan kendaraan Israel di Qantara, Lebanon selatan, serta menembakkan drone ke pasukan Israel dekat kastil Beaufort yang strategis.
Insiden ini bukan kali pertama upaya perdamaian di wilayah tersebut gagal. Gencatan senjata sebelumnya, yang seharusnya berlaku pada 17 April untuk menghentikan pertempuran di Lebanon, tidak pernah dipatuhi secara penuh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan melaporkan pekan lalu bahwa lebih dari 600 orang telah tewas di Lebanon sejak gencatan senjata 17 April itu, menggarisbawahi rapuhnya stabilitas di perbatasan.
