Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah serius mengkaji usulan untuk memperluas pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) tidak hanya pada hari Minggu, melainkan juga di hari Sabtu. Wacana ini muncul sebagai upaya untuk memberikan lebih banyak ruang publik serta mendorong gaya hidup sehat bagi warga Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa ide ini, yang awalnya diinisiasi oleh Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, telah menjadi topik pembahasan serius di internal Balai Kota. Meskipun menilai usulan tersebut "cukup rasional," Pramono menyatakan bahwa keputusan final tidak akan terburu-buru diambil. "Usulan itu cukup rasional, maka di internal Balai Kota, kami sudah melakukan pembahasan. Nanti pada saatnya tentunya kita putuskan," kata Pramono di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026), seperti dilansir internationalmedia.co.id.

Pramono menekankan pentingnya pendalaman menyeluruh terhadap usulan ini, termasuk meminta masukan dari masyarakat. Ia mengingatkan bahwa beberapa ruas jalan yang menjadi lokasi CFD merupakan arteri utama Jakarta, sehingga penutupannya berpotensi menimbulkan dampak signifikan. "Jangan sampai keinginan kita untuk membuat warga sehat justru berujung pada dampak yang tidak diinginkan," tegasnya, menyoroti perlunya mempertimbangkan segala implikasi penutupan jalan terhadap aktivitas warga.
Salah satu pertimbangan krusial adalah penentuan lokasi CFD pada hari Sabtu. Pramono menjelaskan bahwa tidak mungkin dua lokasi utama, yakni kawasan Sudirman-Thamrin dan Jalan Rasuna Said, ditutup secara bersamaan. Salah satu harus dipilih dengan cermat, agar tidak mengganggu aktivitas perkantoran, hotel, dan pertokoan yang masih beroperasi di hari Sabtu.
Dari kalangan legislatif, Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta M Taufik Zoelkifli menyarankan agar kebijakan CFD dua hari ini tidak langsung diterapkan permanen, melainkan dimulai dengan uji coba selama dua hingga tiga bulan. "Saran saya adalah bagaimana caranya kita uji coba dulu ya, dalam 3 bulan atau dalam 2 bulan ya, CFD 2 hari Sabtu Minggu," ujarnya, Minggu (20/9/2026). Menurut Taufik, masa uji coba ini penting untuk mengevaluasi manfaat dan kendala di lapangan, seperti potensi peningkatan kesempatan berolahraga bagi warga, peluang bagi UMKM, namun juga mempertimbangkan implikasi terhadap arus lalu lintas.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo turut mengingatkan pentingnya persiapan matang dan melibatkan berbagai pihak. Ia menekankan perlunya melibatkan pengguna jalan, warga terdampak, pelaku usaha, dan peserta CFD dalam penyusunan rekayasa lalu lintas yang fleksibel. "Skema ini wajib disosialisasikan lebih awal agar masyarakat dan pelaku usaha dapat menyesuaikan aktivitasnya, sehingga CFD dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan dengan pengguna jalan lainnya," kata Rio.
Sementara itu, tanggapan dari warga bervariasi. Reza (40) mengusulkan kawasan Senayan untuk lokasi CFD Sabtu, karena dinilai menawarkan lebih banyak pilihan aktivitas dibandingkan area Sudirman-Thamrin. Di sisi lain, Ika (39) dan Ayu (35) menyambut baik penambahan hari CFD, dengan Ayu menyoroti manfaatnya sebagai ruang berkumpul keluarga dan upaya kolektif mengurangi polusi udara. Keduanya juga mengusulkan kawasan Sudirman karena pilihan kuliner yang beragam.
Dengan berbagai masukan dan pertimbangan yang kompleks, Pemprov DKI Jakarta terus mendalami wacana ini. Keputusan akhir diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi warga Jakarta, menciptakan ruang publik yang lebih sehat dan aktif, tanpa menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi dinamika Ibu Kota.
