Internationalmedia.co.id – News – Washington D.C. Amerika Serikat (AS) tengah mengintensifkan upaya diplomatik untuk membentuk sebuah koalisi internasional baru. Tujuannya adalah membuka kembali jalur pelayaran komersial yang krusial di Selat Hormuz, menyusul terhentinya perundingan damai dengan Iran dan pembatasan aktivitas perlintasan sejak perang berkecamuk akhir Februari lalu. Langkah ini dilaporkan AFP pada Kamis (30/4/2026).
Para diplomat AS di berbagai negara telah diinstruksikan untuk meyakinkan pemerintah global agar bergabung dengan inisiatif yang dinamakan "Konstruksi Kebebasan Maritim" (Maritime Freedom Construct). Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan kawat internal yang menjelaskan bahwa blok pimpinan AS ini akan berfungsi sebagai platform untuk berbagi informasi intelijen, mengoordinasikan langkah diplomatik, dan menegakkan sanksi-sanksi yang berlaku.

Pembentukan koalisi ini didorong oleh situasi di mana Iran berupaya menguasai Selat Hormuz sebagai kompensasi atas serangan yang menimpanya. Selat sempit ini sangat strategis, dulunya menjadi jalur seperlima pasokan minyak global. Dengan harga minyak yang tetap tinggi selama berminggu-minggu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyerukan sekutu-sekutu untuk membantu membuka blokade tersebut, menekankan bahwa "Ini seharusnya selalu menjadi upaya tim."
Koalisi yang diusulkan WSJ ini akan menempatkan Departemen Luar Negeri sebagai "pusat operasi diplomatik," sementara Komando Pusat AS (CENTCOM) akan menyediakan "kewaspadaan domain maritim secara real-time." Dalam kawat diplomatik yang dikirim pada Selasa (28/4) waktu setempat, disebutkan bahwa "Partisipasi Anda akan memperkuat kemampuan kolektif kita untuk memulihkan kebebasan navigasi dan melindungi ekonomi global." Pesan tersebut juga menegaskan, "Tindak kolektif sangat penting untuk menunjukkan tekad yang bersatu dan memberikan dampak yang berarti untuk hambatan yang dipicu Iran terhadap transit melalui selat tersebut."
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi kepada WSJ bahwa gagasan ini merupakan salah satu dari banyak strategi diplomatik dan kebijakan yang dipimpin langsung oleh Presiden. Trump sendiri berulang kali mengkritik respons sekutu-sekutu NATO terhadap konflik AS-Israel melawan Iran, bahkan sempat mengisyaratkan kemungkinan Washington menarik diri dari aliansi militer berusia 77 tahun itu. Upaya untuk mengakhiri perang masih menemui jalan buntu. Iran mengajukan proposal baru yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS, serta menunda perundingan nuklir. Namun, Trump menolak mentah-mentah proposal tersebut, menegaskan bahwa blokade laut akan tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir tercapai.
