Kancah geopolitik global kembali memanas seiring dengan eskalasi tindakan militer dan pernyataan diplomatik dari para pemimpin dunia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Amerika Serikat (AS) melancarkan gempuran masif terhadap lebih dari 70 target kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah pada Jumat (19/12) waktu setempat. Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan pesan tegas kepada negara-negara Barat, menegaskan bahwa Moskow tidak akan memulai agresi jika kedaulatannya dihormati.
Serangan balasan ini merupakan respons keras atas tewasnya tiga warga AS, termasuk dua personel militer, dalam insiden di Suriah pekan sebelumnya. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan ini sebagai "pembalasan yang sangat serius" terhadap ISIS, seraya memperingatkan bahwa setiap entitas yang berani menyerang atau mengancam kepentingan AS akan menghadapi konsekuensi yang jauh lebih berat. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa gempuran yang melibatkan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri ini menargetkan lebih dari 70 lokasi di Suriah bagian tengah, menyusul serangan tunggal ISIS pada 13 Desember di Palmyra yang menewaskan dua tentara dan satu warga sipil AS.

Dari Moskow, Presiden Putin menepis tudingan bahwa pihaknya sengaja mengulur-ulur atau menolak proposal perdamaian untuk mengakhiri konflik. Ia justru menekankan bahwa "bola" kini berada di tangan negara-negara Barat dan Ukraina untuk memulai dialog yang konstruktif. Dalam konferensi pers akhir tahun yang telah menjadi tradisi selama 25 tahun kepemimpinannya, Putin berbicara selama 4,5 jam, menjawab pertanyaan dari media dan masyarakat Rusia, sembari menegaskan komitmennya untuk terus maju di Ukraina dengan penuh keyakinan.
Di belahan benua Amerika, Presiden AS Donald Trump secara blak-blakan menyatakan tidak menutup kemungkinan opsi militer terhadap Venezuela. Pernyataan ini muncul di tengah memuncaknya ketegangan antara Washington dan Caracas, yang dipimpin Presiden Nicolas Maduro. Sebelumnya, Trump telah menyinggung pengerahan armada angkatan laut besar-besaran di sekitar Caracas dan perintah blokade total terhadap kapal tanker minyak Venezuela. Dalam sebuah wawancara dengan media terkemuka AS, Trump dengan tegas menjawab, "Saya tidak mengesampingkannya, tidak," ketika ditanya mengenai potensi konflik bersenjata.
Melihat situasi yang semakin genting, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menawarkan diri sebagai mediator antara AS dan Venezuela. Lula, salah satu tokoh paling berpengaruh di Amerika Latin, menyatakan keprihatinan mendalam Brasil atas krisis yang memburuk dan menegaskan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog demi "menghindari konflik bersenjata". Ia bahkan telah menyampaikan langsung kepada Presiden Trump bahwa "masalah tidak akan terselesaikan dengan baku tembak, lebih baik duduk bersama untuk mencari solusi."
Beralih ke insiden yang tidak biasa, seorang pilot di Bandara Internasional Benito Juarez, Mexico City, melakukan aksi protes ekstrem dengan mengunci diri di dalam kokpit dan menolak menerbangkan pesawat. Aksi ini, yang terjadi pada Jumat (19/12), dipicu oleh tunggakan gaji yang belum dibayarkan selama berbulan-bulan. Pilot tersebut bahkan berkomunikasi langsung dengan puluhan penumpang di dalam kabin, menjelaskan alasannya menolak lepas landas, menciptakan situasi yang membingungkan sekaligus menegangkan bagi para penumpang.
