Kuala Lumpur – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara tegas mendesak Amerika Serikat (AS) untuk segera membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Anwar, tindakan AS terhadap pemimpin Venezuela tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara berdaulat. Internationalmedia.co.id – News
Pernyataan keras ini disampaikan Anwar Ibrahim melalui akun X resminya yang diakses internationalmedia.co.id pada Minggu (4/1). Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas perkembangan di Venezuela, khususnya terkait penangkapan Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Anwar menyebut operasi militer AS yang berujung pada penangkapan tersebut sebagai tindakan luar biasa luas dan tidak biasa, serta merupakan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum internasional.

"Saya telah mengikuti perkembangan di Venezuela dengan keprihatinan yang mendalam. Pemimpin Venezuela dan istrinya ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat yang luar biasa luas dan bersifat tidak biasa. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan merupakan penggunaan kekuatan yang melanggar hukum terhadap negara berdaulat," tulis Anwar dalam unggahannya.
Anwar Ibrahim menekankan pentingnya pembebasan Maduro dan istrinya tanpa penundaan. Ia memperingatkan bahwa pemecatan paksa seorang kepala pemerintahan yang sedang menjabat melalui intervensi eksternal akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Hal ini, lanjutnya, dapat mengikis batasan fundamental dalam penggunaan kekuasaan antarnegara dan secara signifikan melemahkan kerangka hukum yang menjadi dasar tatanan internasional.
Malaysia, tegas Anwar, menjunjung tinggi penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan sebagai pilar utama bagi hubungan damai antarnegara. Ia menegaskan bahwa rakyat Venezuela memiliki hak penuh untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa campur tangan asing.
"Keterlibatan konstruktif, dialog, dan de-eskalasi tetap menjadi jalan paling kredibel menuju hasil yang melindungi warga sipil dan memungkinkan warga Venezuela untuk mengejar aspirasi sah mereka tanpa membahayakan lebih lanjut," pungkas Anwar, menyerukan penyelesaian masalah melalui jalur diplomasi.
Sebagai informasi, penangkapan Presiden Maduro oleh AS terjadi pada Sabtu (3/1) lalu. Insiden ini menjadi puncak ketegangan panjang antara pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump dengan Maduro, yang dituduh AS mendukung kartel narkoba.
