Internationalmedia.co.id – Iran mengecam keras tindakan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, menyebutnya sebagai "pendekatan bullying". Kecaman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari AS terhadap Venezuela, yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump.
Ketegangan memuncak dengan pengerahan kapal induk terbesar AS ke Karibia, disertai armada kapal perang, yang diklaim sebagai operasi antinarkoba. Namun, Venezuela menuduh kampanye ini sebagai kedok untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dan merebut cadangan minyak negara.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan Menlu Venezuela, Yvan Gil Pinto, mengecam keras ancaman AS untuk menggunakan kekerasan. Ia menyebutnya sebagai "pelanggaran berat" Piagam PBB.
Trump sendiri telah berulang kali menuduh Maduro sebagai pemimpin kartel narkoba dan bahkan mengizinkan operasi rahasia CIA di Venezuela. Tak hanya itu, Trump juga tidak menutup kemungkinan intervensi militer di negara tersebut.
Iran dan Venezuela, keduanya berada di bawah sanksi AS, telah lama menjalin hubungan dekat. Kunjungan Maduro ke Iran pada tahun 2022 menghasilkan perjanjian kerja sama selama 20 tahun, yang semakin mempererat hubungan kedua negara. Setahun kemudian, Presiden Iran saat itu, Ebrahim Raisi, mengunjungi Caracas sebagai bagian dari kunjungan ke Kuba, Nikaragua, dan Venezuela.
