Internationalmedia.co.id – Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, muncul kekhawatiran bahwa peningkatan kekuatan militer AS di wilayah Karibia adalah persiapan untuk agresi. Presiden AS Donald Trump memberikan jawaban singkat saat ditanya mengenai isu ini.
"Tidak," jawab Trump singkat kepada wartawan di Air Force One, menepis laporan media yang menyebutkan adanya pertimbangan serangan ke Venezuela. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga membantah klaim tersebut, menyebut laporan di Miami Herald sebagai "berita palsu".

Namun, keraguan tetap ada. AS telah mengerahkan delapan kapal Angkatan Laut ke Karibia dan mengirim jet tempur siluman F-35 ke Puerto Riko. Pengerahan kapal induk dengan dalih pemberantasan narkoba semakin memanaskan situasi. Sejak awal September, AS juga melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Karibia dan Pasifik timur, menewaskan puluhan orang dan menghancurkan belasan kapal.
Pemerintah Venezuela menuduh AS, melalui CIA, merencanakan operasi "bendera palsu" untuk memprovokasi perang di kawasan Karibia. Caracas mengklaim telah menggagalkan rencana serangan terhadap kapal perang AS, USS Gravely, yang berlabuh di Trinidad dan Tobago. Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyebut empat orang telah ditangkap terkait rencana tersebut.
Kedatangan USS Gravely di dekat wilayahnya memicu kemarahan Venezuela, yang menyebutnya sebagai "provokasi" dan mengklaim pengerahan kapal itu "bertujuan untuk memprovokasi perang di Karibia". Di tengah saling tuduh dan peningkatan kekuatan militer, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah ini hanya gertakan atau persiapan untuk konflik yang lebih besar?
