Internationalmedia.co.id Kelompok Hamas dikabarkan setuju untuk membekukan penggunaan senjatanya, namun menolak menyerahkannya. Hal ini terungkap dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza terbaru yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS), bersama dengan peran penting Mesir dan Qatar.
Kepala Layanan Informasi Negara Mesir, Diaa Rashwan, mengungkapkan bahwa pembekuan penggunaan senjata ini merupakan bagian dari proposal gencatan senjata yang diajukan Hamas kepada Israel, dengan durasi antara 5 hingga 10 tahun. Rashwan menegaskan bahwa persenjataan Hamas tidak akan diserahkan kepada Israel maupun entitas non-Arab lainnya.

Meskipun perjanjian tidak secara spesifik menyebutkan pihak yang akan mengawasi pembekuan senjata tersebut, namun mengacu pada komite independen yang berpotensi melibatkan unsur Mesir, Arab, atau Palestina. Rashwan juga menyoroti kegagalan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam menghancurkan kemampuan militer Hamas selama dua tahun perang di Jalur Gaza. Menurutnya, Netanyahu kini mencari cara untuk menunjukkan perlucutan senjata Hamas melalui perjanjian yang sedang berlangsung.
Pernyataan Rashwan ini muncul setelah pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, menegaskan bahwa warga Palestina membutuhkan senjata dan perlawanan, menolak gagasan perlucutan senjata. Kesepakatan gencatan senjata Gaza dan pertukaran sandera-tahanan antara Israel dan Hamas, yang dicetuskan oleh Presiden Donald Trump, telah disambut baik secara internasional dan mulai berlaku pada Kamis (9/10) waktu setempat.
Rencana perdamaian Gaza yang berisi 20 poin mencakup proses demiliterisasi Gaza di bawah pengawasan pemantau independen, termasuk penghentian permanen penggunaan senjata melalui proses decommissioning, didukung oleh program pembelian kembali dan reintegrasi yang didanai internasional, yang semuanya akan diverifikasi oleh pemantau independen.
