Internationalmedia.co.id – Serangan udara yang diduga dilakukan oleh junta militer Myanmar terhadap sebuah festival dan aksi protes telah menewaskan sedikitnya 40 orang, termasuk anak-anak. Insiden tragis ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan yang melanda negara tersebut sejak kudeta militer tahun 2021.
Ratusan orang berkumpul di kota Chaung U, Myanmar tengah, pada Senin (6/10) malam untuk merayakan festival bulan purnama Thadingyut. Namun, kebahagiaan berubah menjadi horor ketika sebuah pesawat tak berawak (drone) melintas di atas kerumunan dan menjatuhkan bom, menurut keterangan seorang anggota komite penyelenggara acara.

"Orang-orang sedang berkumpul untuk festival dan demonstrasi anti-junta sekitar pukul 19.00 ketika bom tersebut menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai sekitar 80 lainnya," ujar sumber tersebut, yang meminta anonimitas karena alasan keamanan.
Menurut saksi mata, kepanikan langsung pecah saat bom meledak. Korban berjatuhan, termasuk anak-anak yang hancur akibat ledakan. "Anak-anak hancur berkeping-keping," ungkap sumber tersebut, yang turut menghadiri pemakaman para korban pada Selasa (7/10).
Seorang warga Chaung U yang hadir dalam acara tersebut mengkonfirmasi jumlah korban dan menceritakan bagaimana orang-orang berusaha melarikan diri ketika menyadari drone itu terbang di atas kepala mereka. "Saat saya mengatakan kepada orang-orang ‘tolong jangan lari’, paralayang bermotor itu menjatuhkan dua bom," katanya kepada internationalmedia.co.id, yang berbicara tanpa menyebut nama. "Dua rekan saya tewas tepat di depan saya. Bahkan lebih banyak lagi yang tewas di depan saya."
Hingga berita ini diturunkan, juru bicara junta militer belum memberikan komentar terkait serangan tersebut. Sementara itu, situasi di Myanmar semakin memanas menjelang pemilu yang dijadwalkan pada 28 Desember, yang dikecam oleh PBB sebagai upaya untuk melegitimasi kekuasaan militer.
