Demo anti-pemerintah di Lima, Peru, berujung ricuh. Internationalmedia.co.id melaporkan setidaknya 18 orang, termasuk polisi dan jurnalis, mengalami luka-luka dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan pada Sabtu (20/9) lalu. Ratusan demonstran, sebagian besar dari generasi muda Peru (Gen Z), terlibat aksi saling serang di sekitar pusat pemerintahan.
Laporan menyebutkan, demonstran melemparkan batu dan kayu ke arah polisi, sementara polisi membalas dengan gas air mata. Kericuhan kembali terjadi di malam hari, dengan sasaran kantor kepresidenan dan gedung parlemen. Aksi ini merupakan buntut dari ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Dina Boluarte, yang masa jabatannya berakhir bulan depan. Demo susulan bahkan telah dijadwalkan pada Minggu (28/9).

Dari 18 korban luka, sekitar 12 di antaranya adalah personel kepolisian. Ironisnya, enam jurnalis juga menjadi korban, termasuk dua dari stasiun radio Exitosa Noticias. Mereka terkena tembakan peluru karet yang dilepaskan polisi saat meliput demonstrasi. Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) dan Koordinator Hak Asasi Manusia Nasional mengecam keras tindakan represif polisi tersebut.
Ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Boluarte memang sedang tinggi. Survei menunjukkan angka kepuasan publik yang anjlok, di tengah maraknya kasus korupsi dan kejahatan terorganisir. Pemerintah dan Kongres Peru yang mayoritas konservatif dinilai publik sebagai lembaga yang korup. Situasi diperparah dengan disahkannya undang-undang yang mewajibkan kaum muda bergabung dengan dana pensiun swasta, padahal banyak yang bekerja di lingkungan tidak aman. Insiden ini menjadi sorotan tajam atas situasi politik dan sosial yang bergejolak di Peru.
