Berita mengejutkan datang dari mantan Presiden AS Donald Trump. Internationalmedia.co.id melansir pernyataan Trump yang ingin merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan, empat tahun setelah pasukan AS menarik diri. Pernyataan ini disampaikan Trump pada Sabtu lalu, dimana ia bahkan mengklaim sedang bernegosiasi dengan pihak Afghanistan terkait hal tersebut, tanpa merinci detail pembicaraan.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pengerahan pasukan AS untuk merebut pangkalan tersebut, Trump hanya memberikan pernyataan ambigu, "Kami tidak akan membicarakan hal itu. Kami menginginkannya kembali, dan kami menginginkannya kembali segera. Jika mereka tidak melakukannya, kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan," ujarnya.

Namun, pernyataan Trump langsung mendapat penolakan keras dari Taliban. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, melalui akun X-nya, mendesak AS untuk bersikap realistis dan rasional. Mujahid menegaskan bahwa Afghanistan memiliki kebijakan luar negeri yang berorientasi ekonomi dan berupaya menjalin hubungan konstruktif dengan semua negara berdasarkan kepentingan bersama. Ia juga menekankan pentingnya kemerdekaan dan integritas wilayah Afghanistan, serta mengingatkan komitmen AS dalam Perjanjian Doha untuk tidak menggunakan kekuatan atau mengancam integritas wilayah atau kemerdekaan politik Afghanistan.
Mujahid menolak menjawab pertanyaan terkait dugaan negosiasi dengan pemerintahan Trump mengenai Bagram dan alasan Trump yakin AS dapat merebut kembali pangkalan tersebut. Sebelumnya, Trump juga telah menyatakan upaya perebutan kembali pangkalan udara tersebut dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Ia menyebut bahwa AS membutuhkan sesuatu dari Afghanistan, sehingga ingin kembali menguasai pangkalan udara strategis tersebut. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai strategi dan implikasi dari rencana kontroversial mantan Presiden AS tersebut.
