Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden China Xi Jinping. Percakapan kedua pemimpin negara adidaya ini, menurut laporan media pemerintah China CCTV dan kantor berita Xinhua, mencakup isu krusial, yakni TikTok dan perdagangan bilateral. Ini merupakan panggilan telepon kedua mereka sejak Trump menjabat periode kedua pada Januari lalu.
Sebelumnya, Trump telah mengindikasikan topik pembahasan dalam wawancara dengan Fox News. Ia menyebut bahwa pembicaraan akan berfokus pada TikTok dan perdagangan, menambahkan bahwa kedua negara "sangat dekat dengan kesepakatan." Trump bahkan mengklaim hubungannya dengan China sangat baik. Pada Juni lalu, Trump dan Xi saling mengundang untuk berkunjung ke negara masing-masing, meskipun hingga kini belum ada rencana perjalanan yang terkonfirmasi. Para analis memperkirakan Xi akan kembali menyampaikan undangan tersebut, memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan sambutan hangat dari Trump.

Trump mengungkapkan harapannya untuk "menyelesaikan masalah TikTok." Ia menggambarkan kesepakatan potensial yang akan menempatkan bisnis TikTok di AS di bawah kepemilikan investor Amerika, termasuk individu dan perusahaan kaya. Trump yakin TikTok telah meningkatkan daya tariknya di kalangan pemilih muda dan membantunya memenangkan pemilihan 2024. Ia sebelumnya menolak larangan TikTok yang diusulkan oleh pendahulunya, Presiden Joe Biden. The Wall Street Journal bahkan menyebut kemungkinan terbentuknya konsorsium yang mengendalikan TikTok, melibatkan Oracle dan dua perusahaan investasi California, Silver Lake dan Andreessen Horowitz.
Pembicaraan telepon ini terjadi di tengah upaya kedua negara untuk mencapai kompromi terkait tarif. AS dan China sebelumnya saling menaikkan tarif secara signifikan, mengganggu rantai pasokan global. Meskipun telah dicapai kesepakatan untuk mengurangi pungutan yang berakhir November mendatang (AS mengenakan bea masuk 30 persen pada barang impor China, sementara China mengenakan tarif 10 persen pada produk AS), isu ini tetap menjadi poin penting dalam negosiasi.
Panggilan telepon tersebut juga berlangsung setelah Xi mengadakan pertemuan puncak dengan pemimpin Rusia dan India, serta mengundang pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ke parade militer di Beijing. Menanggapi hal ini, Trump melalui platform Truth Social-nya, menyampaikan pesan sindiran kepada Xi. Ia meminta Xi untuk menyampaikan salam kepada Putin dan Kim Jong Un, dengan nada yang menyiratkan ketidakpercayaan terhadap kerjasama antara ketiga negara tersebut.
