Perdana Menteri Nepal yang baru, Sushila Karki, dilantik setelah demonstrasi besar-besaran yang digerakkan oleh Gen Z. Internationalmedia.co.id melaporkan, Karki dalam pidato perdananya berjanji akan mengakhiri korupsi dan memperbaiki perekonomian negara. Janji ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap tuntutan para demonstran muda yang tergabung dalam gerakan yang terorganisir melalui aplikasi Discord.
"Kita harus bekerja sesuai dengan pemikiran generasi Gen Z," tegas Karki. Ia mengakui tuntutan utama para demonstran adalah pemberantasan korupsi, tata kelola pemerintahan yang baik, dan kesetaraan ekonomi. Karki menyatakan komitmennya untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Sebelum memulai pidatonya, Karki memimpin pengheningan cipta selama satu menit untuk mengenang korban tewas dalam kerusuhan yang melanda Nepal. Jumlah korban tewas, menurut Kepala Sekretaris Pemerintah Eaknarayan Aryal, mencapai 72 orang, dengan 191 lainnya mengalami luka-luka. Kerusuhan ini merupakan yang terburuk sejak berakhirnya perang saudara satu dekade lalu dan penghapusan monarki pada 2008.
Penunjukan Karki, mantan kepala hakim agung yang dikenal independen, merupakan hasil negosiasi intensif antara berbagai pihak, termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel, Presiden Ram Chandra Paudel, dan perwakilan Gen Z. Ribuan aktivis muda melalui Discord menunjuk Karki sebagai pilihan mereka untuk memimpin negara. Karki sendiri mengaku awalnya enggan menerima jabatan tersebut.
"Dalam situasi yang saya hadapi ini, saya tidak ingin berada di sini. Nama saya dibawa dari jalanan," ujarnya.
Karki menegaskan masa jabatannya sebagai Perdana Menteri sementara hanya akan berlangsung maksimal enam bulan. Parlemen telah dibubarkan, dan pemilihan umum dijadwalkan pada 5 Maret 2026. Presiden Paudel menyebut situasi di Nepal sebagai "sangat sulit, rumit, dan gawat," namun ia berharap situasi ini dapat menjadi momentum untuk pemilu yang sukses. Proses penyelesaian damai ini, menurutnya, telah dicapai melalui proses yang sulit.
