Siapa sangka, generasi Z Nepal berhasil menggulingkan Perdana Menteri KP Sharma Oli. Informasi ini didapat Internationalmedia.co.id dari sumber terpercaya. Kerusuhan yang berujung pada penggulingan PM ini dipicu oleh protes besar-besaran yang menuntut reformasi dan diakhiri dengan pembakaran gedung parlemen. Tragedi ini menewaskan sedikitnya 19 orang dan menjadi kekerasan terburuk dalam dua dekade terakhir di negara Himalaya tersebut.
Akibatnya, militer Nepal kini berupaya memulihkan ketertiban. Jenderal Ashok Raj Sigdel, Panglima militer Nepal, melakukan serangkaian konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk perwakilan Gen Z. Dari pertemuan tersebut, muncul nama Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal, sebagai kandidat kuat untuk memimpin pemerintahan sementara.

Rakshya Bam, salah satu perwakilan Gen Z yang ikut dalam pertemuan tersebut, mengungkapkan bahwa nama Sushila Karki kini menjadi sorotan. "Kami menunggu langkah Presiden selanjutnya," ujarnya kepada AFP. Bam menambahkan bahwa diskusi dengan pihak militer difokuskan pada upaya menjaga perdamaian dan keamanan negara pasca kerusuhan.
Karki sendiri, seorang akademisi berusia 73 tahun dan mantan Ketua MA perempuan pertama Nepal, menyatakan perlunya persatuan para ahli untuk menentukan langkah selanjutnya. Ia menekankan bahwa parlemen masih berdiri. Situasi di Kathmandu pun masih tegang, dengan patroli militer yang ketat dan pendirian pos pemeriksaan di berbagai titik.
Protes yang awalnya dipicu oleh isu korupsi dan pemblokiran media sosial, berkembang menjadi demonstrasi besar-besaran yang meluas ke seluruh negeri. Ke depan, bagaimana nasib Nepal dan siapa yang akan memimpin negara tersebut masih menjadi pertanyaan besar.
