Internationalmedia.co.id melaporkan serangkaian berita internasional yang menghebohkan dunia. Puluhan ribu warga Belgia turun ke jalan di Brussels, ibukota negara tersebut, untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap perjuangan rakyat Palestina. Aksi demonstrasi besar-besaran ini terjadi beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Belgia menyatakan kredibilitas Uni Eropa runtuh akibat kegagalannya dalam bertindak atas konflik tersebut. Polisi memperkirakan jumlah peserta mencapai 70.000 orang, sementara penyelenggara mengklaim angka tersebut mencapai 120.000. Para demonstran banyak yang mengenakan pakaian merah dan membawa kartu merah, sebagai simbol tuntutan tindakan tegas terhadap Israel untuk melindungi warga sipil Gaza.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan ultimatum keras kepada Hamas. Ia mengancam akan memusnahkan kelompok tersebut dan menghancurkan Jalur Gaza jika Hamas tidak segera menyerah. Peringatan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memberikan "peringatan terakhir" kepada Hamas untuk membebaskan sandera yang ditahan di Gaza. Perang antara Israel dan Hamas telah berlangsung hampir dua tahun.

Teguran keras juga dilontarkan Trump kepada perusahaan asing yang beroperasi di Amerika Serikat. Setelah penggerebekan di pabrik baterai Hyundai-LG di Georgia yang berujung pada penahanan 475 pekerja, sebagian besar warga Korea Selatan, Trump memperingatkan agar perusahaan asing mematuhi hukum imigrasi AS. Penahanan tersebut merupakan operasi tunggal terbesar di bawah kebijakan anti-migran Trump.
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga semakin memanas. Serangan udara besar-besaran Rusia yang menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan kebakaran di Kyiv membuat Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih banyak terhadap Moskow. Trump menyatakan ketidaksenangannya atas situasi tersebut.
Sementara itu, kesaksian seorang napi Iran yang selamat dari serangan Israel terhadap Penjara Evin, Motahareh Goonei, mengungkap kekejaman rezim Iran. Goonei menggambarkan "neraka" yang dialaminya, bukan saat serangan Israel, melainkan saat aparat Iran menolak membuka pintu sel tahanan. Kesaksian ini didukung oleh foto satelit, keterangan saksi, dan rekaman yang diverifikasi oleh BBC News Persia. Serangan Israel terhadap penjara yang terkenal kejam itu terjadi pada 23 Juni lalu.

