Internationalmedia.co.id melaporkan, militer Israel mendeklarasikan Kota Gaza sebagai "zona pertempuran berbahaya" pada Jumat (29/8) waktu setempat. Pengumuman ini mengejutkan dunia dan menimbulkan pertanyaan besar terkait rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan Tel Aviv. Tujuannya? Merebut kembali kendali dan menghancurkan kelompok Hamas.
Tekanan internasional terhadap Israel semakin meningkat. Serangan yang terus berlanjut telah memaksa sebagian besar penduduk Gaza mengungsi berulang kali. PBB bahkan telah menyatakan bencana kelaparan di wilayah tersebut. Namun, militer Israel, seperti yang dikutip dari AFP dan Reuters pada Sabtu (30/8/2025), justru bersiap memperluas operasi militer dan merebut Kota Gaza. Serangan di pinggiran kota telah meningkat intensitasnya.

Juru bicara militer Israel untuk wilayah Arab, Avichay Adraee, melalui media sosial X, menyatakan, "Kami tidak akan menunggu. Operasi pendahuluan dan tahap awal serangan terhadap Kota Gaza telah dimulai, dan saat ini kami beroperasi dengan kekuatan besar di pinggiran kota." Pernyataan ini disampaikan setelah jeda sementara untuk pengiriman bantuan kemanusiaan berakhir. Militer Israel menegaskan, "Jeda taktis lokal dalam aktivitas militer tidak akan berlaku di area Kota Gaza, yang merupakan zona pertempuran berbahaya."
Adraee menambahkan bahwa intensitas serangan di pinggiran Kota Gaza akan terus meningkat. Hal senada disampaikan Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, dalam pernyataan video pada Jumat malam. Ia menyatakan pasukannya akan "meningkatkan serangan di area Kota Gaza, dan kami akan mengintensifkan upaya-upaya kita dalam beberapa pekan ke depan".
PBB memperkirakan hampir satu juta orang tinggal di area administrasi Gaza. Organisasi internasional tersebut telah menetapkan bencana kelaparan di wilayah tersebut pekan lalu, menyalahkan "hambatan sistematis" Israel terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan. Meskipun militer Israel belum meminta warga sipil untuk segera mengungsi, Adraee sebelumnya menyatakan evakuasi Kota Gaza "tidak dapat dihindari". COGAT, badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengurusi urusan sipil di wilayah Palestina, bahkan telah mempersiapkan "pemindahan penduduk ke area selatan demi perlindungan mereka".
Lembaga kemanusiaan internasional mendesak Israel untuk tidak memperluas operasi militer. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, mengingatkan akan dampaknya terhadap hampir satu juta penduduk yang terjebak tanpa akses dan sumber daya untuk pindah. Situasi di Gaza semakin mencekam dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya tragedi kemanusiaan yang lebih besar.
