Internationalmedia.co.id melaporkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya menyatakan bencana kelaparan di Jalur Gaza, Palestina. Namun, deklarasi ini menuai kecaman dari warga Palestina yang menilai pernyataan tersebut datang terlambat, setelah berbulan-bulan krisis pangan mengancam nyawa ribuan penduduk.
Peringatan awal sebenarnya sudah dikeluarkan pada akhir Juli oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC), sebuah inisiatif yang didukung PBB. IPC mencatat peningkatan kematian akibat kelaparan, malnutrisi, dan penyakit yang meluas. Lebih dari 20.000 anak dirawat karena malnutrisi akut antara April dan pertengahan Juli, dengan 3.000 di antaranya mengalami malnutrisi parah. Laporan tersebut menyebutkan ambang batas kelaparan telah terlampaui di sebagian besar Jalur Gaza, khususnya untuk konsumsi pangan dan malnutrisi akut di Kota Gaza. IPC mendesak penghentian permusuhan dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Laporan terbaru dari panel IPC, seperti yang dikutip AFP pada Jumat (22/8), menyebutkan sedikitnya 500.000 orang di Gaza menghadapi bencana kelaparan. Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, bahkan menegaskan bahwa krisis ini sebenarnya bisa dicegah jika akses bantuan tidak dihambat. Ia menuding adanya hambatan sistematis dari Israel yang menyebabkan penumpukan makanan di perbatasan. IPC memproyeksikan angka tersebut akan meningkat menjadi 641.000 orang pada akhir September, hampir sepertiga populasi Gaza.
Namun, Kementerian Luar Negeri Israel membantah keras temuan PBB, menyebut laporan IPC sebagai "kebohongan Hamas" yang dimanipulasi oleh organisasi-organisasi tertentu. Mereka mengklaim telah mengirimkan bantuan besar-besaran dan harga pangan telah turun signifikan. Israel bahkan menyebut laporan tersebut sebagai dokumen politik yang tidak bernilai.
Reaksi beragam pun muncul. Hamas menyambut deklarasi PBB, meski menilai terlambat, dan mendesak pencabutan pengepungan Israel serta pembukaan akses bantuan tanpa batas. Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, juga mendesak Israel untuk berhenti menyangkal bencana kelaparan yang terjadi.
Sehari setelah pengumuman PBB, gambar-gambar di media menunjukkan warga Palestina berebut makanan di dapur umum Kota Gaza. Kesaksian warga seperti Yousef Hamad (58), seorang pengungsi dari Beit Hanoun, dan Umm Mohammad (34), seorang ibu yang anaknya jatuh sakit akibat kekurangan makanan dan air, semakin memperkuat gambaran keprihatinan yang terjadi di Gaza. Deklarasi PBB, bagi mereka, datang terlalu lambat.

