Internationalmedia.co.id melaporkan, Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai upaya Amerika Serikat (AS) untuk menundukkan Republik Islam. Khamenei menegaskan AS berupaya memaksa Iran untuk patuh. Pernyataan ini disampaikan di sebuah masjid di Teheran dan dipublikasikan di situs web resminya, dua bulan setelah berakhirnya pertempuran antara Iran dan Israel yang melibatkan AS, serta di tengah negosiasi nuklir Iran dengan negara-negara besar.
Serangan Israel dan AS pada Juni lalu, yang menargetkan fasilitas nuklir Iran dan memicu serangan balasan, menurut Khamenei, bertujuan untuk mengacaukan Republik Islam. Ia mengklaim bahwa sehari setelah serangan Israel, agen-agen AS bertemu di Eropa untuk membahas pemerintahan pengganti di Iran pasca-Republik Islam.

Khamenei menyatakan Iran telah bangkit dari perang 12 hari tersebut—konfrontasi terintens dengan Israel dan AS—dengan memberikan "pukulan telak" kepada musuh-musuhnya. Namun, ia juga memperingatkan bahaya perpecahan internal yang didalangi kekuatan asing. Khamenei menuding agen-agen AS dan rezim Zionis (Israel) berupaya memecah belah Iran. Ia menegaskan, meskipun ada perbedaan pendapat, rakyat Iran tetap bersatu dalam membela negara dan melawan musuh.
Hubungan Teheran dan Washington tegang sejak Revolusi Islam 1979. AS telah menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Iran, terutama terkait program nuklirnya. AS dan sekutunya menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran. Perang Juni lalu menghambat negosiasi nuklir putaran keenam antara Iran dan AS. Iran dijadwalkan bertemu dengan Inggris, Prancis, dan Jerman pada 26 Agustus untuk melanjutkan negosiasi nuklir, di tengah ancaman sanksi baru jika kesepakatan tak tercapai. Pernyataan Khamenei ini menimbulkan pertanyaan besar: Seberapa kuat tekad Iran untuk menghadapi tekanan AS? Dan akankah negosiasi nuklir berjalan mulus?
