Internationalmedia.co.id melaporkan pemecatan mengejutkan tiga perwira tinggi militer AS, termasuk Letjen Jeffrey Kruse, Kepala Badan Intelijen Pertahanan (DIA), menimbulkan spekulasi liar. Pemecatan ini terjadi setelah DIA merilis laporan yang bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump terkait serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Laporan DIA menyebutkan serangan tersebut hanya mampu memperlambat program nuklir Iran beberapa bulan, berbeda jauh dengan pernyataan Trump yang menyebut serangan itu sebagai "keberhasilan militer yang spektakuler" dan "melenyapkan" situs-situs nuklir Iran. Perbedaan pendapat inilah yang diduga menjadi pemicu kemarahan Trump dan berujung pada pemecatan Kruse dan dua perwira senior lainnya, Wakil Laksamana Nancy Lacore dan Laksamana Muda Milton Sands.

Seorang pejabat senior pertahanan yang enggan disebutkan namanya, mengkonfirmasi pemecatan Kruse tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Sementara itu, sumber anonim lain menyebutkan Lacore dan Sands juga telah meninggalkan jabatannya. Ketiganya dipecat tanpa penjelasan resmi yang transparan.
Serangan terhadap Iran pada Juni lalu melibatkan lebih dari 125 pesawat militer AS dan sebuah kapal selam berpeluru kendali. Pemerintahan Trump kemudian menyerang media AS yang memberitakan laporan DIA, menegaskan kesuksesan total operasi tersebut dan mengecam pemberitaan yang dianggap meragukan klaim presiden.
Pemecatan ini menambah daftar panjang pembersihan perwira tinggi militer di era kepemimpinan Trump. Sejak awal masa jabatan keduanya, Trump telah memecat sejumlah jenderal dan laksamana, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Charles "CQ" Brown. Kepala Angkatan Laut, Penjaga Pantai, jenderal yang memimpin Badan Keamanan Nasional, dan sejumlah perwira tinggi lainnya juga bernasib sama. Bahkan, Kepala Staf Angkatan Udara baru-baru ini mengundurkan diri tanpa penjelasan yang memadai.
Langkah Trump ini menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan akuntabilitas pemerintahannya. Apakah ada rahasia yang disembunyikan di balik perbedaan laporan intelijen dan klaim presiden? Atau ini hanyalah bagian dari strategi politik Trump untuk memperkuat kekuasaannya? Misteri ini masih belum terpecahkan dan terus menjadi sorotan tajam publik.

