Internationalmedia.co.id melaporkan peningkatan jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di Pakistan. Hujan monsun yang deras melanda wilayah utara negara tersebut, menyebabkan bencana yang mengerikan. Dalam 48 jam terakhir, angka kematian meningkat drastis menjadi 321 jiwa.
Sebagian besar korban, tepatnya 307 orang, berasal dari daerah pegunungan Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Mereka menjadi korban banjir bandang dan runtuhan rumah. Tragisnya, 15 wanita dan 13 anak-anak termasuk dalam daftar korban jiwa di provinsi tersebut. Selain itu, sembilan orang tewas di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan, dan lima lainnya di Gilgit Baltistan. Kecelakaan helikopter pemerintah yang jatuh akibat cuaca buruk saat misi penyelamatan juga menambah daftar korban, dengan lima orang tewas termasuk dua pilot.

Upaya evakuasi dan penyelamatan terus dilakukan oleh sekitar 2.000 petugas penyelamat. Namun, hujan deras, tanah longsor, dan jalan yang tergenang air menjadi hambatan besar. Juru bicara badan penyelamat Khyber Pakhtunkhwa, Bilal Ahmed Faizi, menjelaskan kesulitan dalam menyalurkan bantuan, terutama dalam mengangkut alat berat dan ambulans. Banyak petugas penyelamat harus berjalan kaki untuk menjangkau daerah terpencil karena penutupan jalan. Ahmed Faizi juga menambahkan bahwa evakuasi korban selamat terhambat karena banyak yang enggan meninggalkan lokasi karena menunggu kabar kerabat mereka yang terjebak di reruntuhan.
Pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa telah menetapkan beberapa distrik pegunungan sebagai daerah bencana dan mengumumkan hari berkabung. Badan meteorologi setempat mengeluarkan peringatan hujan lebat dan mengimbau masyarakat untuk waspada. Musim monsun, yang vital bagi pertanian, seringkali membawa bencana seperti ini di Asia Selatan. Bencana ini menjadi pengingat akan dampak dahsyat cuaca ekstrem dan pentingnya kesiapsiagaan bencana.
