Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mendukung visi "Israel Raya" memicu kecaman keras dari negara-negara Arab. Internationalmedia.co.id melaporkan, pernyataan tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang tengah memanas. Visi "Israel Raya", yang merujuk pada wilayah kekuasaan Israel pada masa Raja Salomo, mencakup wilayah Palestina saat ini, serta sebagian wilayah Yordania, Lebanon, dan Suriah. Ambisi ini telah lama disuarakan oleh kelompok ultra-nasionalis Israel.
Dalam wawancara dengan i24NEWS, Netanyahu secara tegas menyatakan dukungannya terhadap visi tersebut. Pernyataan ini langsung memicu reaksi internasional. Yordania menyebut pernyataan Netanyahu sebagai "eskalasi berbahaya dan provokatif", sementara Mesir meminta klarifikasi dan menilai pernyataan tersebut sebagai penolakan terhadap perdamaian.

Irak juga ikut mengecam, menyebut pernyataan tersebut sebagai "ambisi ekspansionis" dan "provokasi terhadap kedaulatan negara-negara". Qatar, yang berperan sebagai mediator gencatan senjata di Gaza, bahkan menyebut pernyataan Netanyahu "absurd" dan "menghasut". Arab Saudi pun turut menolak gagasan "Israel Raya" dan menegaskan kembali hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka.
Pernyataan Netanyahu ini muncul di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, yang semakin memperkeruh suasana di Timur Tengah. Langkah-langkah pemerintah Israel, seperti persetujuan pembangunan permukiman baru yang dianggap ilegal oleh hukum internasional dan pernyataan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang menyerukan penaklukan Jalur Gaza dan aneksasi Tepi Barat, semakin memperkuat kekhawatiran negara-negara Arab. Situasi ini menunjukkan meningkatnya ketegangan dan ancaman terhadap stabilitas regional.

