Internationalmedia.co.id memberitakan, suasana duka menyelimuti kantor pusat Al Jazeera di Doha. Ratusan staf berkumpul dalam acara peringatan yang disiarkan televisi, mengenang lima jurnalis mereka yang tewas dalam serangan di Gaza. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban jiwa jurnalis yang gugur dalam konflik berdarah antara Israel dan Hamas.
Acara penghormatan tersebut dipenuhi haru biru. Foto-foto kelima jurnalis—Anas al-Sharif, Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa—terpampang, menjadi saksi bisu atas tragedi yang menimpa mereka. Di antara hadirin, terlihat Wael al-Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Gaza, yang kehilangan istri dan anak-anaknya dalam serangan yang sama. Ia juga menceritakan kesedihan mendalam atas meninggalnya rekan-rekannya. Fadi Al Wahidi, juru kamera yang kini lumpuh akibat luka tembak di leher, turut hadir, menunjukkan betapa berbahayanya tugas meliput konflik bersenjata.

Al-Dahdouh dalam kesaksiannya kepada internationalmedia.co.id mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. "Kehilangan mereka bukan hanya kehilangan pribadi, tapi juga kehilangan bagian penting dari keluarga besar Al Jazeera," ujarnya. Meskipun dilanda duka, Al Jazeera menegaskan komitmennya untuk terus memberitakan konflik di Gaza, meskipun harus dibayar dengan nyawa para jurnalisnya. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi jurnalis dalam menjalankan tugasnya di tengah konflik bersenjata.

