Internationalmedia.co.id melaporkan kabar mengejutkan dari Gedung Putih. Armenia dan Azerbaijan, dua negara yang selama ini berseteru, telah menandatangani kesepakatan damai bersejarah yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Kesepakatan yang diinisiasi Jumat lalu ini disambut gembira oleh NATO sebagai langkah maju signifikan bagi keamanan regional.
Juru bicara NATO, Allison Hart, melalui akun X-nya menyatakan apresiasi atas peran Presiden AS dalam mencapai kesepakatan ini. Ia menyebut penandatanganan deklarasi damai sebagai kemajuan besar menuju normalisasi hubungan dan keamanan kawasan yang lebih luas. NATO, tegas Hart, siap bekerja sama dengan kedua negara untuk memastikan keberhasilan kesepakatan ini. Kerjasama dengan Azerbaijan dan Armenia akan terus ditingkatkan, tambahnya.

Perseteruan panjang antara kedua negara bekas republik Uni Soviet ini akhirnya berakhir setelah Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev meneken kesepakatan di hadapan Presiden AS Donald Trump. Trump sendiri menyatakan kedua pemimpin berkomitmen pada perdamaian abadi setelah konflik yang berlangsung selama beberapa dekade. Kesepakatan ini mendapat sambutan positif dari Iran dan negara-negara Barat.
Bahkan, menurut laporan AFP, Pashinyan dan Aliyev menilai peran mediasi Trump layak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian. Dalam acara penandatanganan di Gedung Putih, Trump menjelaskan isi kesepakatan yang mencakup penghentian pertempuran permanen, pembukaan jalur perdagangan dan perjalanan, hubungan diplomatik, serta saling menghargai kedaulatan dan integritas teritorial. Kesepakatan ini diharapkan mampu membuka babak baru bagi hubungan Armenia dan Azerbaijan.

