Internationalmedia.co.id melaporkan situasi mencekam di Jalur Gaza. Kelaparan massal tengah melanda, namun Israel membantah bertanggung jawab. Tuduhan justru dialamatkan kepada Hamas. Pernyataan ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk organisasi kemanusiaan internasional dan negara-negara seperti Prancis.
Lebih dari 111 organisasi kemanusiaan dan HAM menyatakan keprihatinan mendalam atas meluasnya kelaparan massal di Gaza. Mereka menuding blokade yang diterapkan Israel sebagai penyebab utama krisis kemanusiaan ini. Hal senada disampaikan oleh Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menyebut kelaparan tersebut sebagai "buatan manusia".

Namun, Israel melalui juru bicara pemerintahnya, David Mencer, dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Mencer malah menuding Hamas sebagai dalang di balik krisis pangan, dengan alasan Hamas mencegah distribusi bantuan dan bahkan menjarah bantuan tersebut untuk kepentingan sendiri. Ia juga menyalahkan PBB atas lambatnya penyaluran bantuan yang telah mendapat izin.
Pernyataan Mencer dibantah oleh 111 organisasi kemanusiaan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa izin yang diberikan Israel sangat terbatas dan koordinasi distribusi bantuan di tengah zona perang menjadi tantangan besar. Tonase bantuan terbengkalai di gudang-gudang, sementara warga Gaza terjebak dalam lingkaran putus asa menunggu bantuan dan gencatan senjata. Organisasi-organisasi tersebut, termasuk MSF, Save the Children, dan Oxfam, menyerukan gencatan senjata segera, pembukaan perlintasan perbatasan, dan aliran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan melalui mekanisme PBB. Pernyataan ini menjadi sorotan tajam terhadap situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di Gaza.
