Langkah mengejutkan datang dari Malaysia. Internationalmedia.co.id melaporkan, Negeri Jiran itu resmi membatasi ekspor, transit, dan pengiriman ulang (transshipment) semua chip kecerdasan buatan (AI) buatan Amerika Serikat (AS). Kebijakan baru ini berlaku efektif segera, dan semua aktivitas terkait chip AI canggih AS kini wajib mengantongi izin perdagangan strategis. Hal ini diumumkan Kementerian Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia, Senin (14/7/2025) lalu.
Pernyataan resmi tersebut menyebut langkah ini sebagai upaya menutup celah regulasi, sembari Malaysia melakukan peninjauan lebih lanjut terkait pencantuman chip AI AS berkinerja tinggi ke dalam Daftar Barang Strategis. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Washington sebelumnya telah beberapa kali menyuarakan kekhawatiran terkait potensi pengiriman ulang chip AI AS ke China, khususnya komponen-komponen sensitif.

Posisi strategis Malaysia dalam rantai pasokan global, kemampuan logistiknya yang mumpuni, dan lokasi geografisnya menjadikan negara ini sebagai pusat utama ekspor dan transshipment chip AI kelas atas. Hal ini, menurut para ahli, yang membuat Malaysia menjadi titik fokus pengawasan.
Dugaan pelanggaran aturan ekspor chip AS oleh perusahaan China semakin memperkuat alasan di balik kebijakan baru ini. Laporan Wall Street Journal (WSJ) bulan lalu menyebutkan insinyur China menggunakan server di Malaysia yang berisi chip Nvidia untuk membangun model AI, sebelum kemudian memindahkannya kembali ke China. AS sendiri telah memberlakukan pembatasan ekspor semikonduktor canggih ke China untuk mempertahankan keunggulan teknologi.
Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan kesiapan negaranya untuk bekerja sama dengan negara-negara di kawasan, termasuk Malaysia, guna menjaga tatanan perdagangan internasional yang bebas dan terbuka. Namun, Malaysia menegaskan sikap tegas terhadap segala upaya menghindari kontrol atau keterlibatan dalam aktivitas perdagangan ilegal. Langkah Malaysia ini tentu akan memicu dinamika baru dalam persaingan teknologi global.