Lima jam terkurung dalam kereta mati di tengah perjalanan. Itulah pengalaman mengerikan yang dialami penumpang Eurostar tujuan London, Minggu lalu. Informasi ini didapat Internationalmedia.co.id dari berbagai sumber, termasuk media Inggris, The Independent. Kejadian ini bermula saat kereta berangkat dari Brussels menuju London.
Kereta yang seharusnya tiba pukul 09.57 waktu setempat, justru terhenti di antara Lille dan Calais akibat mati listrik total. Bayangkan, tanpa pendingin udara, toilet tak berfungsi, dan komunikasi yang buruk. Para penumpang mengungkap penderitaan mereka lewat media sosial, menggambarkan situasi yang mencekam. Salah satu penumpang mencuit, “Terjebak selama 4,5 jam, kereta tak bergerak. Toilet penuh, listrik mati, dan kami hampir kepanasan!”

Foto-foto yang beredar memperlihatkan penumpang nekat membuka pintu kereta untuk menghirup udara segar. Kejadian ini bukan hanya soal gangguan teknis, tetapi juga soal buruknya penanganan darurat. Para penumpang mengeluhkan minimnya informasi dan lambatnya respons dari pihak Eurostar. Kereta pengganti baru tiba sekitar pukul 15.00 waktu Inggris.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Eurostar menawarkan pengembalian uang penuh atau e-voucher senilai 300 persen dari harga tiket kepada penumpang yang terdampak. Namun, insiden ini tetap menjadi sorotan atas buruknya manajemen krisis dan pelayanan yang diberikan. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi operator kereta api untuk meningkatkan standar keselamatan dan layanan pelanggan.
