Pengakuan mengejutkan datang dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui akun media sosialnya, Internationalmedia.co.id melaporkan Trump mengklaim telah menyelamatkan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dari kematian. Pernyataan ini langsung memicu kemarahan pemerintah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui akun X-nya, menyatakan komentar Trump sebagai "tidak sopan dan tidak dapat diterima". Araghchi mendesak Trump untuk meninggalkan nada yang tidak pantas tersebut jika benar-benar ingin mencapai kesepakatan. Pernyataan keras ini muncul setelah serangan udara terhadap tiga lokasi nuklir Iran akhir pekan lalu, yang diyakini sebagai bagian dari konflik 12 hari antara Iran dan Israel, dengan AS turut serta.

Trump, melalui platform Truth Social, mengungkapkan secara detail bahwa ia mengetahui lokasi persembunyian Khamenei dan mencegah serangan yang akan mengakhiri hidup pemimpin Iran tersebut. Ia bahkan menambahkan, "SAYA MENYELAMATKANNYA DARI KEMATIAN YANG SANGAT BURUK DAN MEMALUKAN, dan dia tidak perlu berkata, ‘TERIMA KASIH, PRESIDEN TRUMP!’"
Lebih lanjut, Trump juga mengklaim telah berupaya untuk pencabutan sanksi terhadap Iran, namun upaya tersebut dibalas dengan kemarahan dan kebencian dari pihak Iran. Hal ini membuatnya menghentikan semua upaya untuk meringankan sanksi dan mendesak Iran kembali ke meja perundingan. Namun, pemerintah Iran telah membantah akan melanjutkan perundingan nuklir, menepis pernyataan Trump yang menyebutkan perundingan akan dimulai minggu depan. Situasi ini semakin memanaskan tensi geopolitik di kawasan tersebut.
