Jakarta – Badan Narkotika Nasional (BNN) menegaskan komitmennya untuk menghadapi ancaman peredaran narkoba di era digital, khususnya melalui media baru seperti vape. Strategi pencegahan ini diperkuat oleh temuan riset independen dari Klinik Digital yang dipimpin oleh Associate Prof. Dr. Devie Rahmawati, sebagaimana dilaporkan Internationalmedia.co.id – News pada Jumat (18/9/2026).
Devie Rahmawati menjelaskan bahwa penelitian mereka mengungkap evolusi vaping dari sekadar produk menjadi sebuah ekosistem sosial-digital yang kompleks. Ia menyoroti bahaya utama: "Tantangan terbesar bukan pada saat generasi muda sudah terlanjur menggunakan, melainkan ketika suatu risiko kehilangan identitasnya sebagai risiko. Hal-hal yang terus-menerus terpampang, diperbincangkan, dan menjadi bagian dari pergaulan sehari-hari, secara bertahap dapat dianggap lumrah," ungkap Devie, dalam keterangan pers yang diterima internationalmedia.co.id.

Studi komprehensif ini dilakukan melalui metode web scraping untuk mengumpulkan data digital secara terarah, dilengkapi dengan evidence synthesis dan triangulasi dari berbagai sumber. Tujuannya adalah memetakan interkoneksi antara produk, konten digital, pengaruh teman sebaya, aksesibilitas, dan perilaku pengguna. Devie menekankan bahwa isu vaping jauh melampaui sekadar pilihan individu untuk menggunakan atau tidak menggunakan produk tersebut.
Penelitian tersebut mengidentifikasi bahwa vaping di Indonesia telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem sosial-digital yang dinamis. Di dalamnya, produk, konten promosi, lingkaran pertemanan, pengaruh keluarga, gaya hidup, ritel, dan platform digital saling berinteraksi. Oleh karena itu, yang patut diwaspadai bukan hanya substansi produknya, melainkan mekanisme yang secara bertahap menormalkan penggunaan vaping di tengah masyarakat.
Analisis dilakukan secara bertahap, mencakup aspek epidemiologi, produk, paparan digital, peran keluarga, ritel, regulasi, hingga evaluasi upaya pencegahan. Hasil akhirnya adalah pemetaan mendalam tentang bagaimana normalisasi vaping dapat terbentuk. Wiratri Anindhita, peneliti dari Klinik Digital, menambahkan, "Algoritma tidak bekerja sendiri; ada peran teman, keluarga, produk, komunitas, dan lingkungan sosial. Pada akhirnya, persoalan digital tetaplah persoalan kemanusiaan."
Temuan ini kemudian menjadi pijakan bagi Klinik Digital untuk mengevaluasi kembali kebutuhan pencegahan dan mengaitkannya dengan jejaring sosial yang telah dibangun BNN. Setelah memetakan struktur masalah vaping, penelitian justru mengonfirmasi bahwa pendekatan pencegahan yang diterapkan BNN saat ini sangat relevan dengan karakteristik risiko yang teridentifikasi.
BNN dinilai memiliki modalitas krusial dalam menghadapi ancaman yang kian kompleks, meliputi pengalaman panjang dalam pencegahan, jejaring luas di masyarakat, sekolah, dan komunitas, fokus terhadap generasi muda, serta kapasitas kolaborasi lintas sektor. Laporan penelitian juga secara spesifik menyoroti kekuatan jaringan pencegahan BNN di tingkat masyarakat, sekolah, dan komunitas.
Andhita Yukihana, peneliti dari Klinik Digital, menyatakan, "Kami memetakan masalahnya terlebih dahulu. Setelah peta itu terbentuk, terlihat jelas bahwa kekuatan pencegahan sosial yang telah dibangun BNN selama ini semakin relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda kini." Yukihana menambahkan, "Sebuah institusi yang tangguh tidak hanya sanggup menghadapi ancaman yang sudah nyata, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca perubahan sebelum perubahan tersebut membesar."
Klinik Digital menggarisbawahi bahwa meskipun ruang digital berpotensi mempercepat penyebaran norma yang tidak sehat, jaringan anak muda juga dapat menjadi akselerator penyebaran norma yang positif. Kehadiran 214 Desa/Kelurahan Bersinar yang diinisiasi BNN merupakan bukti bahwa upaya pencegahan telah merambah hingga ke lingkungan akar rumput, tempat norma sosial sehari-hari dibentuk. Jaringan ini menjadi sangat vital, mengingat penelitian menempatkan lingkungan sosial sebagai salah satu pembentuk utama norma perilaku generasi muda.
Wiratri, yang juga pengurus Yayasan RKD, menambahkan, "Inilah keunikan BNN. Saat banyak pihak terpaku pada teknologi sebagai solusi, BNN justru telah memiliki aset yang tak dimiliki algoritma: manusia, teman sebaya, dan komunitas. Di era digital ini, jaringan sosial nyata seperti inilah yang justru semakin bernilai."
Klinik Digital turut mengapresiasi konsistensi BNN dalam memprioritaskan pencegahan. Hal ini terlihat dari penguatan strategi ‘War on Drugs for Humanity’ melalui program ‘Ananda Bersinar’, transformasi digital, dan pemberantasan narkotika yang terintegrasi. Pilihan ini dinilai krusial, sebab pemberantasan berfokus pada ancaman yang sudah terjadi, sementara pencegahan berupaya memastikan ancaman tersebut tidak pernah tumbuh.
Kajian Klinik Digital menyimpulkan bahwa BNN tidak memulai dari titik nol. Fondasi pencegahan telah kokoh, dan temuan ilmiah mengindikasikan bahwa fondasi tersebut semakin relevan dalam menghadapi perubahan lanskap risiko generasi muda. Devie Rahmawati menutup dengan pernyataan inspiratif: "Kemenangan terbesar pencegahan bukan sekadar berhasil menghentikan sesuatu yang berbahaya, melainkan ketika satu generasi tidak pernah merasa perlu untuk memulainya." Ia menambahkan, "Kesimpulan utama kajian ini adalah pemetaan mekanisme normalisasi vaping, yaitu gambaran bagaimana paparan berkelanjutan terhadap produk, promosi, lingkungan sosial, dan kemudahan akses, secara bertahap dapat menjadikan vaping sebagai hal yang biasa atau wajar di mata masyarakat."
