Di tengah riuhnya aktivitas perkebunan kelapa sawit, sebuah oase hijau di Solok Selatan, Sumatera Barat, menyimpan kehidupan luar biasa. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, kawasan konservasi High Conservation Value (HCV) milik PT Kencana Sawit Indonesia (KSI) menjadi rumah bagi ratusan spesies flora dan fauna, membuktikan komitmen perusahaan terhadap keseimbangan lingkungan. Suara burung dan aliran sungai menjadi melodi alami yang tak terpisahkan dari lanskap yang dijaga ketat ini.
Hari Purnama, General Estate Manager PT KSI, menegaskan bahwa keberadaan area konservasi seluas sekitar 1.760,25 hektare ini merupakan wujud nyata upaya perusahaan dalam menjaga harmoni antara kegiatan bisnis perkebunan dan kelestarian alam. "Dalam dunia bisnis perkebunan, produksi kelapa sawit memang prioritas. Namun, melalui konservasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis semata, tetapi juga sangat peduli terhadap lingkungan," ungkap Hari. Kawasan ini mencakup empat sungai vital, termasuk Sungai Jujuhan dan Sungai Ganeh, serta empat bukit seperti Bukit Tengah Pulau dan Bukit Saloh.

Untuk memahami dan memantau kondisi ekosistemnya, PT KSI secara berkala melakukan survei keanekaragaman hayati. Hasil pemantauan hingga tahun 2025 sungguh mencengangkan: total 651 jenis flora dan fauna berhasil diidentifikasi di kawasan konservasi ini. Angka tersebut terdiri dari 291 jenis fauna dan 360 jenis flora, menunjukkan kekayaan hayati yang luar biasa.
Keanekaragaman tersebut tidak hanya terbatas pada satwa liar yang berkeliaran. Beberapa jenis flora bernilai ekologis tinggi juga ditemukan, seperti bunga bangkai (Amorphophallus), Rafflesia, dan Agathis alba, yang semuanya menjadi pilar penting dalam ekosistem HCV. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi berbagai mamalia besar seperti Harimau Sumatera, macan dahan, tapir, ajag, hingga primata seperti siamang dan berbagai jenis monyet. Salah satu kelompok burung yang paling menonjol adalah rangkong, dengan delapan spesies berbeda yang berhasil diidentifikasi, termasuk rangkong perut putih, julang emas, dan badak.
Hari Purnama menambahkan, keberadaan siamang dan rangkong, yang merupakan satwa endemik Sumatera, menjadi indikator kuat bahwa kawasan konservasi ini masih menyediakan ruang hidup yang ideal bagi satwa liar. "Kami merawat dan menjadikan kawasan ini sebagai tempat berkembang biak mereka, salah satunya melalui kerja sama dengan Yayasan Kalaweit," jelasnya. Keberhasilan konservasi ini tercermin dari lingkungan yang terjaga, populasi ikan yang stabil di sungai, dan potensi area ini sebagai tujuan wisata edukasi bagi masyarakat.
Upaya menjaga kawasan seluas ini tidak lepas dari peran serta aktif masyarakat sekitar. PT KSI merekrut warga setempat dari daerah Sumedhuni dan Talau untuk bergabung sebagai anggota pengawas konservasi. "Keterlibatan langsung dari masyarakat sekitar sangat membantu meminimalkan kendala di lapangan dan memastikan pemantauan yang efektif," kata Hari, menekankan pentingnya kolaborasi ini.
Komitmen terhadap konservasi ini juga diarahkan untuk jangka panjang. Perusahaan berharap agar kawasan ini dapat terus dijaga bersama masyarakat, memastikan fungsi habitat dan ekosistem di dalamnya tetap lestari. "Harapan kami untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, perusahaan dan masyarakat bisa sama-sama konsisten menjaga areal konservasi yang ada di PT KSI ini," tutur Hari, optimis.
Ityasman, HCV Officer Sumatera Barat, memberikan gambaran lebih detail mengenai jejak satwa di lapangan. "Untuk mamalia, kamera trap kami pernah merekam tapir, pelanduk, kijang, rusa, kambing hutan, anjing hutan, dan beruang madu," ujarnya. Sementara itu, jenis primata yang terpantau meliputi lutung silver, ungko, monyet ekor panjang, kukang, dan simpai. Beberapa jenis burung dilindungi seperti elang, ular bido, dan brontok juga turut memperkaya daftar keanekaragaman hayati.
Program pelepasliaran siamang menjadi salah satu fokus utama. Ityasman menyebutkan, total 25 ekor siamang telah dilepasliarkan di kawasan Bukit Tengah Pulau dan Bukit Saloh, memberikan harapan baru bagi populasi primata ini. Mengenai rangkong, Ityasman menjelaskan bahwa satwa ini cenderung menyebar di seluruh area konservasi, mulai dari sempadan sungai hingga hutan di perbukitan, tergantung lokasi sarangnya. "Waktu kemunculannya juga beragam, kadang pagi, siang, atau sore," tambahnya.
Kehidupan liar di Solok Selatan ini bahkan menarik perhatian Panji Petualang. Dalam kunjungannya, Panji menyusuri Sungai Jujuhan, salah satu bagian integral dari kawasan konservasi, untuk melihat langsung kondisi alamnya. Saat menyusuri sungai, ia berhasil menemukan ular cincin emas. "Ini ular Cincin Emas, berbisa menengah, beda sama Weling. Mungkin predator bagi hewan kecil, seperti tupai dan lain-lain," jelas Panji, seperti dilansir internationalmedia.co.id. Perjumpaan ini menjadi bukti nyata bahwa sungai-sungai di kawasan ini juga merupakan bagian penting dari ruang hidup berbagai jenis satwa.
Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit yang luas, kawasan hijau di Solok Selatan ini berdiri tegak sebagai benteng kehidupan. Hutan yang terjaga, sungai yang terus mengalir jernih, dan beragam satwa yang masih memiliki tempat untuk berkembang biak. Bagi 651 jenis flora dan fauna yang tercatat di dalamnya, area ini bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan rumah yang harus terus dilindungi dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
