Internationalmedia.co.id – News Jakarta – Pemerintah Indonesia segera merespons dampak gempa bumi dahsyat yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggelar rapat koordinasi tanggap darurat. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono memimpin langsung pertemuan krusial ini di Posko Utama Kabupaten Manggarai. Pertemuan yang digelar secara hibrida ini berfokus pada evaluasi kondisi terkini serta perumusan langkah-langkah percepatan penanganan di berbagai wilayah terdampak.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Cucun Ahmad Syamsurijal, dan Sari Yuliati, bersama perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, serta sejumlah BUMN terkait. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyoroti urgensi untuk memperoleh laporan situasi riil di lapangan, merumuskan langkah taktis tanggap darurat, dan mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani dalam satu hingga dua hari ke depan. Ia juga menekankan pentingnya kejelasan pembagian tugas antarlembaga untuk memastikan respons yang efektif.

Kepala BNPB, Suharyanto, melaporkan bahwa gempa utama berkekuatan M 7,7 telah disusul oleh 995 gempa susulan, beberapa di antaranya cukup signifikan hingga M 6,2. Hingga 16 Agustus 2026, data sementara mencatat enam kabupaten di Pulau Flores mengalami dampak signifikan. Jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang, dengan rincian 25 orang di Kabupaten Manggarai, 20 di Manggarai Timur, 4 di Sikka, 2 di Ende, serta masing-masing 1 di Manggarai Barat dan Ngada. Laporan tambahan korban juga datang dari Pulau Palue, Kabupaten Sikka, yang akan segera diasesmen oleh BNPB guna memastikan kebutuhan logistik masyarakat setempat.
Data kerusakan infrastruktur juga menunjukkan skala yang mengkhawatirkan: tercatat sementara 299 rumah rusak berat, 65 rumah rusak sedang, dan 50 rumah rusak ringan. Angka ini masih terus diperbarui seiring proses asesmen di lapangan. Menanggapi situasi ini, Wamensos Agus Jabo Priyono menegaskan kesiapan Kementerian Sosial untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi. "Kemensos memiliki tiga gudang logistik di wilayah NTT, dua di Kupang dan satu di Dinsos Provinsi. Barang sudah siap sejak kemarin, namun kendala akses laut yang sempat menghambat, kini logistik mulai bergerak pada malam hari," jelas Agus Jabo.
Untuk mengatasi kendala distribusi, Kemensos menyiapkan strategi alternatif dengan melakukan pengadaan langsung di titik-titik terdampak. Bantuan yang diprioritaskan meliputi bahan pangan, tenda darurat, selimut, pakaian, serta perlengkapan esensial bagi perempuan dan anak-anak. Guna memperkuat ketahanan pangan, Kemensos juga menyiapkan pengadaan 48 ton beras melalui kerja sama dengan Bulog setempat. Selain itu, dapur umum telah dioperasikan di sejumlah wilayah dengan banyak pengungsi, seperti Nagekeo, Sikka, dan Manggarai, dengan total produksi mencapai 168.854 porsi selama tujuh hari.
Kemensos juga telah menyalurkan santunan sebesar Rp15 juta kepada dua ahli waris korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi secara simbolis. "Setelah proses sinkronisasi data rampung, santunan akan segera disalurkan kepada ahli waris lainnya," tambah Agus Jabo. Ia juga memastikan, untuk area yang sulit dijangkau melalui jalur darat maupun laut, Kemensos akan berkoordinasi dengan BNPB guna dukungan transportasi udara, di samping upaya pengadaan kebutuhan secara lokal.
Rapat koordinasi ini juga membahas pemulihan layanan dasar yang terdampak gempa. BNPB melaporkan bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Manggarai mengalami kerusakan, menyebabkan pelayanan kesehatan terbatas. Untuk mendukung penanganan medis, Kementerian Kesehatan akan mengirimkan rumah sakit lapangan menggunakan pesawat Hercules. Sementara itu, kementerian/lembaga dan BUMN terkait terus berkoordinasi untuk memulihkan pasokan listrik, ketersediaan BBM, serta jaringan komunikasi di wilayah terdampak, memastikan upaya pemulihan berjalan komprehensif.
