Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memicu kontroversi dengan klaimnya yang menyatakan telah menguasai Selat Hormuz dan berencana menjadikannya bagian dari wilayah AS setelah "mengalahkan" Iran. Namun, pernyataan bombastis ini justru dinilai oleh pakar sebagai indikasi kekalahan dan posisi "babak belur" AS dalam konflik berkepanjangan dengan Teheran.
Dalam kunjungannya ke Akademi Kepolisian Nassau County di Garden City, New York, pada Jumat (14/8), Trump dengan tegas menyatakan, "Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat." Ia juga menambahkan bahwa blokade AS akan tetap diberlakukan, melarang kapal melintas tanpa izin dari Washington.

Pakar Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, kepada wartawan pada Minggu (16/8), mengungkapkan bahwa klaim AS sebagai pengendali Selat Hormuz muncul saat posisi Washington sudah sangat tertekan, baik di dalam maupun luar negeri. "Hal ini sangat menyakitkan bagi Presiden Trump dan Partai Republik, serta industri pertahanan AS," ujarnya.
Menurut Rezasyah, klaim tersebut merupakan upaya Trump untuk membangkitkan optimisme Partai Republik menjelang Pemilu AS November mendatang, demi menghindari pemakzulan jika partainya tetap unggul. Klaim ini juga bertujuan meyakinkan sekutu global bahwa AS masih mampu memimpin secara politik, moral, diplomatik, dan militer. Namun, Rezasyah menegaskan, kenyataannya perang melawan Iran yang berkelanjutan ini menunjukkan perencanaan yang gagal total.
Dari sisi Iran, klaim Trump dipersepsikan sebagai ancaman serius terhadap peradaban Persia dan agama Islam, sehingga wajib dihadapi dengan segala risiko. Rezasyah memperkirakan perang akan berlanjut, dengan Iran yang semakin percaya diri dan siap menggunakan perangkat perangnya yang paling mutakhir.
Lebih lanjut, Iran diperkirakan akan segera meminta ketegasan posisi politik dan militer dari semua negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) dalam konflik ini. Negara-negara GCC diprediksi akan semakin menyadari bahwa AS dan Israel bukan lagi mitra strategis mereka. Turki dan Mesir juga kemungkinan akan menolak ajakan Saudi Arabia untuk membentuk koalisi melawan Iran. Ke depan, Iran bahkan akan berani memerangi kekuatan manapun yang mendukung AS dan Israel secara langsung maupun tidak langsung.
Juru bicara komando terpadu militer Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaqari, dengan tegas membantah klaim Trump. "Tidak ada satu pun kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran," tegasnya. Iran juga berulang kali menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama AS terus melakukan intervensi dan blokade di kawasan, serta menuduh Washington gagal memenuhi nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.
Ketegangan di Selat Hormuz, jalur perairan strategis vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, terus memanas dengan klaim dan bantahan yang saling bertolak belakang, menandakan konflik AS-Iran masih jauh dari kata usai.
