Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Menanggapi musibah yang telah merenggut puluhan nyawa tersebut, Fraksi PDI Perjuangan di Komisi VIII DPR RI, melalui juru bicaranya, Selly Andriany Gantina, mendesak penanganan prioritas bagi kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia. "Duka ini adalah duka kita bersama. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan," ujar Selly, seperti dikutip Internationalmedia.co.id – News.
Selly menekankan pentingnya pendataan korban jiwa dan masyarakat terdampak yang cepat, akurat, dan menyeluruh. Selain itu, pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian juga harus menjadi fokus utama. Ia secara spesifik meminta agar pasokan makanan, air bersih, obat-obatan, ketersediaan tenaga medis, serta kebutuhan pendidikan bagi anak-anak sekolah dapat terpenuhi tanpa hambatan.

"Anak-anak jangan sampai kehilangan rasa aman dan kesempatan untuk belajar hanya karena mereka menjadi korban bencana," tegas Selly. Ia menambahkan bahwa kelompok rentan lainnya seperti lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas juga wajib menerima perhatian khusus. Selly berharap semua pihak dapat bekerja sama membantu masyarakat terdampak, memastikan tidak ada warga di wilayah terpencil atau terisolasi yang merasa ditinggalkan. "Dalam keadaan seperti ini, masyarakat membutuhkan kehadiran negara yang nyata, bukan hanya bantuan, tetapi juga rasa aman dan kepastian bahwa mereka tidak sendirian," lanjutnya, menyerukan agar pemerintah sigap menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan, menguatkan yang kehilangan, dan mendampingi masyarakat Flores hingga bangkit kembali.
Senada dengan Selly, Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, juga mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera mengambil langkah kedaruratan. Marwan menyadari bahwa pejabat daerah mungkin kesulitan karena turut terdampak, sehingga penanganan cepat dari pusat menjadi krusial. "Kita yang tidak terdampak ini harus segera menangani," ujarnya. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak lambat dalam mengevakuasi, menyiapkan kebutuhan korban selamat, dan mengidentifikasi korban meninggal.
Marwan khawatir kelambatan penanganan akan menimbulkan persepsi negatif terhadap kapasitas pemerintah dalam menghadapi bencana. Ia mendesak kementerian dan lembaga terkait untuk lebih gesit turun langsung ke lapangan, daripada menghabiskan waktu dengan rapat-rapat koordinasi. "Penanganan kedaruratan itu penting. Kehadiran itu yang kita butuhkan ketimbang mendiskusikan apa yang bisa… jadi langsung aja," pungkasnya. Ia menyarankan agar bantuan seperti tenda dan genset segera dikirim, penyesuaian kebutuhan dapat dilakukan di lapangan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, turut menyampaikan dukacita mendalam atas musibah yang menelan korban jiwa ini. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk BNPB, Kementerian Sosial, dan pemerintah daerah, dapat bahu-membahu menangani segala kebutuhan masyarakat yang terdampak. "Kita harapkan seluruh stakeholder bahu membahu untuk segera menangani segala masalah masyarakat," ucap Singgih.
Gempa M7 di NTT ini menjadi pengingat akan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh elemen bangsa. Desakan dari para wakil rakyat ini menggarisbawahi urgensi untuk tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memastikan perlindungan dan pemulihan psikososial, terutama bagi kelompok paling rentan, agar mereka dapat kembali menata kehidupan pascabencana.
