Internationalmedia.co.id – News – Jakarta. Di tengah gempuran era digital yang tak terhindarkan, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, kembali menegaskan peran krusial permainan tradisional dalam membentuk karakter anak bangsa. Penegasan ini disampaikan saat ia menghadiri Festival ‘Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari’ yang bertujuan menghidupkan kembali ragam permainan rakyat. Melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan dengan Komunitas Hong, anak-anak usia 5 hingga 8 tahun diajak berinteraksi dengan congklak, bekel, gasing, dam-daman, kelom batok, ular naga, ampar-ampar pisang, cublek-cublek suweng, hingga cing ciripit, bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana pembelajaran dan pewarisan nilai luhur.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Fadli Zon menekankan bahwa permainan tradisional adalah pilar penting dalam Pemajuan Kebudayaan, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Ia menjelaskan, lebih dari sekadar warisan, permainan ini adalah wadah nilai-nilai luhur yang esensial bagi pembentukan karakter. "Di era digital ini, anak-anak tetap membutuhkan ruang nyata untuk bermain, berinteraksi, belajar kerja sama, dan menyerap nilai-nilai kebangsaan melalui pengalaman langsung," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id baru-baru ini.

Indonesia, lanjut Fadli, diberkahi dengan ribuan permainan tradisional yang tersebar di berbagai pelosok, merefleksikan kekayaan budaya yang tak ternilai. Kekayaan ini, menurutnya, wajib didokumentasikan, dilestarikan, dan diperkenalkan kembali kepada generasi penerus melalui sinergi lintas sektor. "Kementerian Kebudayaan sedang menggarap berbagai upaya, mulai dari dokumentasi, registrasi, hingga rencana pembangunan museum permainan tradisional Indonesia. Kolaborasi semacam ini krusial agar anak-anak kembali merasakan akrabnya permainan yang menanamkan kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong," papar Fadli Zon.
Ia berharap, inisiatif kolaboratif ini akan terus diperkuat demi menciptakan ruang bermain yang tidak hanya aman dan sehat, tetapi juga sarat nilai budaya bagi anak-anak Indonesia. Menghidupkan kembali permainan tradisional, imbuhnya, bukan sekadar melestarikan warisan, melainkan investasi strategis untuk membentuk generasi berkarakter, kreatif, tangguh, dan mencintai budayanya sendiri—fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045.
Senada, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, turut menyuarakan pentingnya keseimbangan. Menurutnya, perlindungan anak di ranah digital harus diimbangi dengan ketersediaan ruang bagi mereka untuk memperoleh pengalaman nyata melalui aktivitas bermain. "Kami mendambakan generasi yang tumbuh dari pengalaman langsung, bukan semata-mata dari layar digital. Oleh karena itu, proteksi di dunia maya harus berjalan seiring dengan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal kekayaan budaya lokal yang turut membentuk karakter mereka," jelas Meutya.
Rangkaian festival ini juga ditandai dengan peluncuran Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga. Buku ini merupakan hasil kolaborasi apik antara komunitas orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, dan pemerhati tumbuh kembang anak, menyajikan beragam ide kegiatan positif sebagai alternatif dari dominasi layar digital, sekaligus memicu anak untuk lebih aktif bergerak, berkreasi, dan berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan edukatif, interaktif, dan menyenangkan menjadi kunci penyelenggaraan festival ini, demi menciptakan harmoni antara pemanfaatan teknologi digital dengan aktivitas fisik serta interaksi sosial yang vital bagi pembentukan karakter. Lebih jauh, inisiatif ini mendukung penuh implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Diinisiasi oleh Betadine Indonesia, kegiatan ini adalah bukti nyata kolaborasi multi-pihak: pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga. Tujuannya jelas, menghadirkan ruang bermain sehat dan memperkuat perlindungan anak di era digital melalui sentuhan budaya. Festival yang sekaligus menyambut Hari Anak Nasional 2026 ini menawarkan beragam aktivitas edukatif, mulai dari diskusi publik, olahraga keluarga, permainan edukatif, hingga panduan aktivitas positif melalui Buku Saku. Harapannya, anak-anak dapat belajar langsung melalui gerak fisik, interaksi sosial, dan permainan yang memupuk kreativitas serta karakter mereka.
