Internationalmedia.co.id – News – Bangunan bersejarah SD Negeri Pondok Cina (Pocin) 1 di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, kini tinggal puing. Pemerintah Kota (Pemkot) Depok secara resmi memulai pembongkaran gedung lama tersebut untuk dialihfungsikan menjadi Rumah Kreatif Anak Istimewa, sebuah proyek senilai Rp 15,7 miliar yang justru menuai kekecewaan dan tanda tanya besar dari masyarakat setempat.
Salah satu suara kekecewaan datang dari Agus Dowan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang merupakan warga Depok. Saat ditemui di lokasi bekas SDN Pocin 1 pada Senin (13/7/2026), Agus tidak dapat menyembunyikan rasa penyesalannya. "Kecewalah," ujarnya singkat, menggambarkan sentimen banyak warga.

Agus menyoroti nilai historis SDN Pocin 1 yang telah berdiri sejak era 1960-an, mencetak ribuan alumni. Baginya, pengalihan fungsi lahan menjadi Rumah Kreatif Anak Istimewa bukanlah keputusan yang bijak. Ia mendesak Pemkot Depok untuk memberikan penjelasan yang transparan kepada publik, terutama mengingat besarnya anggaran Rp 15,7 miliar yang digelontorkan untuk proyek ini.
"Sekolah ini sudah ada sejak tahun ’60-an, Pak. Sudah berapa banyak alumni yang lahir dari sini?" tanya Agus retoris. Ia khawatir proyek ini hanya menjadi "simulasi atau kamuflase" untuk mengucurkan anggaran. "Di mana visi-misinya? Tujuannya apa?" imbuhnya, mempertanyakan urgensi dan prioritas Pemkot dalam membangun fasilitas baru di atas lahan sekolah yang memiliki sejarah panjang.
Selain itu, Agus juga menyinggung isu kepemilikan lahan yang disebut-sebut merupakan tanah wakaf warga. Ia mendesak Pemkot Depok untuk menunjukkan bukti valid mengenai penyelesaian hak atas tanah, termasuk proses ganti rugi jika memang sudah dilakukan. "Kalau ada warga yang merasa tanah wakafnya belum dibayar Pemda, bagaimana coba? Ada tidak bukti pembayaran itu?" tanyanya, menekankan pentingnya kejelasan hukum atas aset tersebut.
Pantauan internationalmedia.co.id di lokasi menunjukkan bahwa proses pembongkaran berlangsung masif. Separuh dari bangunan sekolah yang pernah menjadi ikon di Jalan Margonda itu kini telah rata dengan tanah. Alat berat bekerja tanpa henti, merobohkan sisa-sisa struktur, sementara para pekerja sibuk membersihkan puing-puing yang diangkut oleh mobil pikap. Hanya gapura bertuliskan ‘SELAMAT DATANG DI SD NEGERI PONDOKCINA 1’ yang masih berdiri, menjadi saksi bisu perubahan ini.
Pagar sekolah telah ditutup rapat dengan seng, dan sebuah papan proyek terpampang jelas. Papan tersebut mengonfirmasi rencana "Pembangunan dan penataan lingkungan Rumah Kreatif Anak Istimewa" dengan anggaran APBD sebesar Rp 15,7 miliar, ditargetkan rampung dalam 165 hari kalender.
Polemik seputar SDN Pocin 1 bukanlah hal baru. Konflik ini telah bergulir sejak tahun 2022, ketika bangunan tersebut pertama kali direncanakan untuk dibongkar demi pembangunan Masjid Raya Depok. Rencana tersebut memicu gelombang protes keras dari para orang tua murid yang khawatir akan masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Tak hanya mengajukan gugatan ke PTUN Bandung dan PTUN Jakarta yang akhirnya kandas, kelompok orang tua murid juga melaporkan kasus ini ke kepolisian, Ombudsman, hingga Komnas HAM. Desakan publik dan berbagai upaya hukum tersebut akhirnya membuat Pemkot Depok memindahkan seluruh siswa SDN Pocin 1 ke bangunan SDN Pocin 5, yang kemudian secara resmi diubah namanya menjadi SDN Pocin 1.
Setelah proyek masjid raya dibatalkan, gedung lama SDN Pocin 1 sempat terbengkalai. Barulah kemudian, Wali Kota Depok Supian Suri memutuskan untuk memanfaatkan lahan strategis tersebut dengan mengalihkannya untuk pembangunan Rumah Kreatif Anak Istimewa, sebuah keputusan yang kini kembali memicu perdebatan di tengah masyarakat Depok.
