AKP Siti Elminawati, seorang Kanit 1 Subdit 4 Dit Reskrimum Polda Sulawesi Tengah, menunjukkan komitmen luar biasa dalam membela perempuan, anak, dan kelompok rentan yang menjadi korban kekerasan seksual. Dorongan kuat di balik dedikasinya ini ternyata berasal dari pengalaman pahitnya sendiri: ia pernah menjadi korban kekerasan seksual. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa kisah inspiratifnya kini menjadi sorotan publik.
Jauh sebelum mengenakan seragam Bhayangkara dan dikenal sebagai pembela kaum rentan, AKP Siti memendam luka mendalam. Ia terlahir dari keluarga yang mengalami perpecahan (broken home) dan mengalami kekerasan seksual saat masih duduk di bangku SMP dan SMA. "Ternyata luka itu yang membuat saya terus berkarya, khususnya di unit PPA untuk saya bekerja terhadap korban-korban yang tidak berani speak up," ungkap AKP Siti dalam wawancara dengan internationalmedia.co.id. Ia menambahkan bahwa pengalaman masa lalunya menjadi cerminan saat menangani kasus pelecehan seksual, memungkinkan dirinya memahami betul posisi korban.

Bergabung dengan Korps Bhayangkara pada tahun 2001, AKP Siti mengaku dorongan untuk menjadi Polwan datang dari pamannya. Saat itu, konflik internal di Poso menciptakan situasi sosial yang tidak kondusif, memantapkan keyakinannya bahwa menjadi Polwan adalah jalan untuk membantu masyarakat mencapai kedamaian. Sejak awal kariernya, ia langsung berkecimpung di bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Dalam menjalankan tugasnya di unit PPA, AKP Siti menekankan pentingnya mengedepankan perspektif korban. "Korban adalah individu yang mengalami luka, baik fisik maupun psikis. Jika kita tidak menemukan solusi yang tepat, mereka bisa terpuruk di masa depan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan keibuan yang ia terapkan seringkali berhasil membuka ruang bagi korban maupun pelaku untuk memberikan keterangan tanpa rasa terintimidasi.
Dedikasi dan pendekatannya yang humanis mengantarkan AKP Siti Elminawati sebagai salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026 dalam kategori Polisi Pelindung Perempuan dan Anak (Kelompok Rentan). Ia percaya bahwa Tuhan telah mempersiapkannya untuk menjadi penolong bagi mereka yang membutuhkan keadilan.
Kinerja AKP Siti juga mendapat apresiasi tinggi dari Kapolres Sigi, AKBP Kari Amsah Ritonga. Saat bertugas sebagai Kasat Reskrim Polres Sigi, AKP Siti dikenal sebagai sosok Polwan yang keibuan, tegas, dan humanis. "Ibu Siti adalah pemimpin yang ulet dan tangguh dalam menegakkan hukum, sekaligus membimbing anak buahnya dengan pendekatan yang humanis," ujar AKBP Ritonga.
Komitmennya dalam melindungi perempuan dan anak juga diakui oleh Direktur Eksekutif Libu Perempuan Sulawesi Tengah, Dewi Rana. Dewi menyoroti bagaimana AKP Siti tidak pernah memperhitungkan biaya dalam penanganan kasus kekerasan seksual. "Seringkali, untuk membantu korban pulang, Bu Siti rela mengeluarkan uang pribadi karena keterbatasan anggaran. Ini menunjukkan empati yang luar biasa," kata Dewi Rana.
Lebih lanjut, Dewi menilai kepedulian AKP Siti terhadap korban kekerasan lahir secara alami dari dalam dirinya. "Tidak banyak aparat yang memiliki kepedulian sejati seperti Ibu Siti. Ini adalah hal yang sangat orisinal dan menarik," imbuhnya, menegaskan bahwa dedikasi AKP Siti bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati.
