Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, meluapkan kekesalannya terhadap fenomena warga yang menjadikan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai tontonan. Internationalmedia.co.id – News – Diaz menegaskan bahwa musibah ini bukan sekadar pemandangan, melainkan ancaman serius yang sama sekali tidak patut dijadikan hiburan.
Kekesalan Wamen Diaz muncul saat Kapolresta Tangerang, Kombes Andi Muhammad Indra Waspada, melaporkan kesulitan petugas dalam mengendalikan kerumunan warga. Sejak api berkobar pada Selasa (30/6/2026) hingga hari kelima pemadaman, masyarakat terus berdatangan ingin menyaksikan langsung lokasi kejadian.

"Memang dari hari pertama kami bertugas di sini sampai hari kelima ini, banyak masyarakat yang ingin melihat ke sini, Pak Wamen," ujar Kombes Indra saat memberikan laporan kepada Diaz Faisal Malik Hendropriyono pada Sabtu (4/7/2026).
Ironisnya, warga di sekitar lokasi berdalih bahwa momen kebakaran ini dianggap sebagai ‘hiburan’ di tengah masa liburan. Kapolresta Tangerang bahkan melaporkan adanya resistensi tinggi dari masyarakat. "Mereka justru komplain, ‘Pak ini kan hari libur Pak, kalau Bapak ke mal, saya cuma bisa melihat ini’," kata Kombes Indra menirukan keluhan yang disampaikan kepada petugas keamanan.
Meski demikian, pihak kepolisian terus berupaya mengimbau masyarakat untuk menjauh. Empat pos pengamanan berlapis telah didirikan di sekitar TPA Jatiwaringin untuk mencegah warga masuk ke area berbahaya.
Wamen LH Diaz kembali mendesak agar warga tidak mendekat. "Kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga. Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton," tegasnya.
Dia menjelaskan bahwa kepulan asap tebal dari tumpukan sampah yang terbakar mengandung zat berbahaya. Semakin dekat warga dengan lokasi, semakin tinggi risiko terpapar berbagai penyakit pernapasan, mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga potensi karsinogenik atau pemicu kanker dalam jangka panjang.
"Semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan terkena penyakit, termasuk ISPA dan potensi karsinogenik," jelas Diaz, meminta Kapolres untuk terus memberikan imbauan agar menjauhi area bencana ini.
Ancaman Ledakan Gas Metana dan Polusi Udara Ekstrem
Diaz menjelaskan, karakteristik kebakaran TPA Jatiwaringin jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lahan gambut. "Jika gambut hanya berpotensi terbakar, di sini bisa lebih eksplosif karena ada kandungan gas metana (CH4) yang mudah meledak," terangnya, menekankan penanganan yang lebih serius, apalagi di tengah fenomena El Nino.
Berdasarkan analisa thermal drone Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), area yang terdampak kebakaran saat ini telah mencapai 15 hektare dari total 33 hektare luas TPA.
Sementara itu, data dari sistem pemantauan bergerak KLH menunjukkan angka polusi udara partikulat (PM 2.5 dan PM 1.0) di lokasi sempat meroket hingga level 1.000. Angka ini jauh melampaui ambang batas sehat yang seharusnya hanya 15,5 mikrogram per meter kubik.
"Baku mutu udara yang dikatakan baik itu 15,5, sedangkan sedang berada di angka 15,5-55,5. Jika melewati itu, statusnya tidak sehat dan membahayakan. Angkanya sempat menyentuh 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," ujarnya.
Radius bahaya asap ini diperkirakan mencapai 1,7 hingga 2,1 kilometer, tergantung pada arah angin. Mengingat kebakaran di TPA Jatiwaringin belum juga padam sejak Selasa (30/6/2026), Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menetapkan status tanggap darurat untuk mengatasi bencana ini.
