Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Hendropriyono, mengeluarkan peringatan serius terkait kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Menurut Diaz, insiden ini jauh lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lahan gambut, bahkan menyimpan potensi ledakan mematikan akibat akumulasi gas metana (CH4). Pernyataan mengejutkan ini disampaikan usai peninjauan langsung ke lokasi pada Sabtu (4/7/2026).
"Memang pemadaman ini bukan hal yang mudah," ungkap Diaz kepada awak media. "Karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut, di mana api mungkin terlihat padam di permukaan, namun masih membara di bagian bawah. Namun, yang membuat TPA ini lebih mengkhawatirkan adalah keberadaan gas metana di bawah tumpukan sampah, yang memiliki potensi eksplosif."

Ia menambahkan, "Jika gambut mungkin hanya berpotensi terbakar, di sini ada kemungkinan lebih eksplosif karena CH4. Dan lebih bahaya lagi karena sifat metana itu punya potensi untuk meledak."
Dalam kesempatan yang sama, Diaz juga membeberkan hasil pemantauan kualitas udara di sekitar TPA. Kementerian LH telah menerjunkan dua unit mobile monitoring system. Hasilnya sangat mengkhawatirkan; parameter polusi udara sempat menyentuh angka 1.000, jauh melampaui ambang batas normal yang idealnya berada di kisaran 15,5.
"Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5, dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan," jelas Diaz. "Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis." Namun, pemantauan sempat terkendala daya listrik posko yang tidak mampu menyokong alat monitoring 3.500 Watt. Diaz segera berkoordinasi dengan PLN untuk memastikan pasokan listrik stabil demi akurasi data.
Tantangan lain yang dihadapi tim pemadam adalah topografi gunungan sampah yang menjulang tinggi, mencapai 20 hingga 30 meter, menyebabkan api masih tersimpan di kedalaman. Untuk mengatasi ini, pemerintah mengerahkan 30 personel Manggala Agni dari Jawa Barat dan Sulawesi, tim yang dikenal ahli dalam penanganan kebakaran bawah tanah.
"Kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan injection (suntikan air) sampai ke titik di bawah," terang Diaz. "Karena kalau diairi dari atas saja itu kurang efektif, di bawahnya tetap terbakar." Meski mengadopsi teknik pemadaman gambut, Diaz menyebut ada penyesuaian signifikan karena kedalaman tumpukan sampah TPA jauh melampaui lahan gambut yang umumnya hanya 5-10 meter. Selain itu, peralatan injeksi memerlukan pasokan air bersih dari PDAM agar pipa bertekanan tinggi tidak tersumbat lumpur.
"Jadi untuk yang gambut memang benar bahwa bawahnya itu mungkin ya 4-5 meter lah ya kedalamannya di bawah. Kalau di sini kita lihat aja gunungnya kan tinggi," jelasnya. "Jadi tadi ada penyesuaiannya, injection-nya itu harus dipanjangin ya dari Manggala Agni. Tapi yang paling penting itu bukan hanya ukuran panjangnya, tetapi airnya itu sendiri."
Peristiwa ini, menurut Diaz, menjadi pengingat krusial akan pentingnya transisi pengelolaan sampah dari sistem terbuka menjadi sanitary landfill atau closed landfill. Hal ini esensial untuk mencegah akumulasi gas metana yang menjadi pemicu utama kebakaran serupa di masa mendatang. Hingga hari kelima pemadaman sejak Selasa (30/6) lalu, api di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, masih belum sepenuhnya padam, dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai 15 hektar.
