Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyatakan bahwa blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan. Pernyataan ini, yang disampaikan dalam sebuah pertemuan tertutup, segera memicu lonjakan harga minyak global ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pertemuan tertutup dengan para eksekutif perusahaan minyak AS yang digelar di Gedung Putih pada Selasa (28/4) waktu setempat, sebagaimana pertama kali diungkap oleh media AS, Axios. Dalam pertemuan strategis itu, Trump secara tegas menyatakan bahwa tindakan blokade terhadap pelabuhan Iran dinilai jauh lebih efektif dibandingkan opsi pengeboman. Ia menekankan tujuan utama Washington adalah mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

"Blokade ini agak lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir," ucap Trump kepada Axios, melontarkan analogi yang tajam.
Seorang pejabat Gedung Putih yang memilih anonimitas mengungkapkan kepada internationalmedia.co.id bahwa Presiden Trump dalam pertemuan tersebut juga membahas upaya "meringankan pasar minyak global" sekaligus langkah-langkah untuk "melanjutkan blokade saat ini selama beberapa bulan jika diperlukan dan meminimalkan dampak pada konsumen Amerika." Pejabat tersebut menambahkan bahwa Trump secara rutin berdialog dengan para pemimpin eksekutif energi untuk mendapatkan masukan mengenai pasar energi domestik dan internasional, mencakup produksi, situasi di Venezuela, harga minyak masa depan, gas alam, dan distribusinya.
Komentar-komentar provokatif dari Trump tersebut sontak mendorong harga minyak mentah Brent melonjak signifikan, yakni sebesar 7,6 persen, mencapai US$119,69 per barel. Angka ini menandai level tertinggi sejak pecahnya perang di Ukraina pada awal tahun 2022 lalu, mengindikasikan sensitivitas pasar terhadap ketegangan geopolitik.
Konflik yang memanas antara AS dan Iran ini berakar dari serangkaian peristiwa. Dimulai dengan serangan gabungan AS dan Israel pada Februari 2026, Iran merespons dengan membatasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan krusial bagi pasokan minyak dan gas global. Sebagai balasan, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan tujuan menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam upaya meredakan ketegangan, Iran sempat mengajukan proposal baru kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator. Proposal tersebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS, sementara perundingan nuklir akan ditunda ke tahap negosiasi selanjutnya. Namun, Trump menolak mentah-mentah tawaran tersebut, menegaskan bahwa blokade laut akan tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir yang komprehensif tercapai antara Washington dan Teheran.
(nvc/ita)
