Internationalmedia.co.id – News – Manila menjadi saksi bisu manuver militer berskala raksasa ketika Amerika Serikat (AS) dan Filipina memulai latihan perang tahunan mereka, Balikatan, pada Senin (20/4). Yang menarik perhatian adalah partisipasi perdana kontingen pasukan Jepang, menandai penguatan aliansi regional. Latihan yang melibatkan ribuan personel ini segera memicu kemarahan Beijing, terutama karena beberapa lokasi latihan berada di perairan Laut China Selatan yang disengketakan.
Selama 19 hari ke depan, lebih dari 17.000 prajurit dari ketiga negara, termasuk 1.400 personel Jepang, akan terlibat dalam serangkaian simulasi tempur. Latihan ini tidak hanya mencakup tembakan langsung di wilayah utara Filipina yang strategis, menghadap langsung ke Selat Taiwan, tetapi juga di provinsi-provinsi yang berbatasan dengan Laut China Selatan yang menjadi titik panas perselisihan. Salah satu puncak latihan akan melibatkan pasukan Jepang yang mendemonstrasikan kemampuan rudal jelajah Tipe 88 mereka untuk menenggelamkan kapal penyapu ranjau tua di lepas pantai utara Pulau Luzon, sebuah pesan kekuatan yang jelas.

Di tengah gejolak global, termasuk konflik di Timur Tengah, Amerika Serikat menegaskan kembali prioritasnya di kawasan Indo-Pasifik. Letnan Jenderal Christian Wortman, Komandan Pasukan Ekspedisi Marinir AS, dalam upacara pembukaan, menyatakan, "Terlepas dari berbagai tantangan di belahan dunia lain, fokus Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik dan komitmen kami yang tak tergoyahkan kepada Filipina tetap kokoh." Sekitar 10.000 personel militer AS turut serta dalam latihan ini. Jenderal Romeo Brawner, Panglima Militer Filipina, bahkan mengungkapkan bahwa Laksamana Samuel Paparo, Kepala Komando Indo-Pasifik AS, menjamin Balikatan tahun ini akan menjadi "yang terbesar dalam sejarah".
Meskipun AS dan Filipina bersikeras bahwa tidak ada latihan yang "dekat Taiwan", fakta bahwa beberapa simulasi pertahanan pesisir berlangsung kurang dari 200 kilometer dari pantai selatan pulau tersebut tidak luput dari perhatian Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers, melontarkan kecaman keras, menuduh ketiga negara "bermain api". "Kawasan Asia-Pasifik sangat membutuhkan perdamaian dan stabilitas, bukan intervensi kekuatan eksternal yang justru menabur benih perpecahan dan konfrontasi," tegas Guo. Ia menambahkan peringatan, "Negara-negara yang bersangkutan harus menyadari bahwa keterikatan buta atas nama keamanan hanya akan berujung pada bumerang yang merugikan diri mereka sendiri."
Latihan Balikatan tahun ini jelas mengirimkan sinyal kuat mengenai komitmen AS dan sekutunya untuk menjaga stabilitas di Indo-Pasifik, sekaligus menantang klaim dominasi China di Laut China Selatan. Dengan partisipasi Jepang yang semakin aktif, dinamika keamanan regional diperkirakan akan semakin kompleks, menempatkan kawasan ini di persimpangan jalan antara kerja sama dan potensi eskalasi.

