Internationalmedia.co.id – News – Sidang pidana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang seharusnya menghadirkan dirinya sebagai saksi pada Senin (20/4) di Tel Aviv, mendadak ditunda. Keputusan mengejutkan ini diambil oleh pengadilan distrik Yerusalem, dengan alasan yang disebut sebagai "keamanan-diplomatik" yang krusial, membuat sang PM batal hadir di kursi saksi.
Penundaan ini, seperti dilaporkan oleh The Jerusalem Post pada Minggu (19/4) malam waktu setempat, mengutip informasi dari Anadolu Agency. Para hakim di pengadilan distrik Yerusalem memutuskan untuk mendengarkan saksi meringankan lainnya terlebih dahulu, sehingga jadwal kesaksian Netanyahu harus mundur.

Menurut laporan tersebut, persidangan dengan agenda keterangan Netanyahu sebagai saksi kemungkinan besar tidak akan digelar sebelum pekan depan. Penundaan ini bermula dari permintaan pihak pembela yang mengajukan pembatalan kesaksian Netanyahu, dengan merujuk pada "alasan keamanan-diplomatik" yang tidak disebutkan secara spesifik di hadapan publik, namun telah diuraikan dalam materi tertutup yang diserahkan kepada pengadilan dan jaksa penuntut umum.
Jaksa penuntut umum sendiri menentang keras penundaan ini. Mereka berargumen bahwa kecuali ada kebutuhan keamanan yang mendesak dan tidak dapat dihindari, jadwal Perdana Menteri Netanyahu seharusnya menyesuaikan dengan kalender pengadilan. Jaksa juga menekankan pentingnya kepentingan publik dalam memajukan persidangan, khususnya untuk menuntaskan pemeriksaan silang.
Kasus yang menjerat Netanyahu ini masih dalam tahap pemeriksaan silang untuk kesaksiannya. PM Israel itu pertama kali memberikan kesaksian pada Desember 2024. Jaksa penuntut baru memulai pemeriksaan silang terhadapnya pada Juni 2025, setelah kubu pembela menghabiskan 36 sesi untuk memberikan kesaksian.
Persidangan ini sebagian besar berfokus pada Kasus 4000, yang berpusat pada tuduhan pemberian perlakuan istimewa dalam regulasi sebagai imbalan atas pemberitaan media yang menguntungkan. Netanyahu secara konsisten membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Selain Kasus 4000, Netanyahu juga menghadapi tuduhan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam dua kasus lain yang dikenal sebagai Kasus 1000 dan Kasus 2000. Dakwaan terhadapnya diajukan oleh jaksa penuntut Israel pada November 2019.
Kasus 4000 secara spesifik melibatkan tuduhan bahwa Netanyahu menyetujui keputusan regulasi yang menguntungkan Shaul Elovitch, mantan pemilik situs berita Walla dan mantan pejabat eksekutif pada perusahaan telekomunikasi Bezeq. Imbalan dari persetujuan tersebut diduga adalah pemberitaan positif yang menguntungkan Netanyahu.
Kompleksitas hukum yang dihadapi Netanyahu tidak berhenti di situ. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza. Situasi ini semakin memperumit posisi Netanyahu, yang juga harus menghadapi berbagai konflik di banyak front, termasuk melawan Hamas di Jalur Gaza, Hizbullah di Lebanon, serta Iran.

