Internationalmedia.co.id – News – Isu sensitif mengenai dugaan pasokan senjata dari Tiongkok ke Iran kembali mencuat, memicu ketegangan diplomatik dan ancaman serius dari Amerika Serikat. Beijing dengan tegas membantah laporan intelijen AS yang menyebutkan adanya pengiriman atau rencana pengiriman sistem militer ke Teheran, melabelinya sebagai "fitnah tak berdasar". Situasi ini semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif "mengejutkan" sebesar 50 persen terhadap Tiongkok jika terbukti memberikan bantuan militer kepada Iran.
Laporan yang menjadi pemicu bantahan Tiongkok ini pertama kali diungkap oleh media-media AS. CNN, pada Minggu (12/4), melaporkan berdasarkan sumber intelijen AS bahwa Tiongkok sedang dalam persiapan untuk mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa minggu mendatang. Tiga sumber yang memahami penilaian intelijen tersebut mengkonfirmasi informasi ini. Tidak hanya itu, The New York Times juga mengutip pejabat-pejabat AS yang mengindikasikan bahwa Beijing mungkin telah mengirimkan rudal panggul.

Menanggapi tuduhan tersebut, pemerintah Tiongkok melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, dalam konferensi pers reguler pada Senin (13/4), menyatakan penolakan keras. "Kami menentang fitnah yang tidak berdasar atau asosiasi yang jahat," tegas Guo. Beijing menegaskan bahwa mereka "selalu bersikap hati-hati dan bertanggung jawab terhadap ekspor barang-barang militer, menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan pengendalian ekspornya sendiri serta kewajiban internasionalnya."
Meskipun Tiongkok merupakan mitra ekonomi utama Iran, terutama sebagai pembeli sebagian besar minyak dari negara Timur Tengah tersebut, kedua negara tidak memiliki pakta militer formal. Banyak analis menilai bahwa hubungan antara Beijing dan Teheran lebih bersifat transaksional. Menariknya, Tiongkok juga memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan negara-negara Teluk lainnya dan bahkan pernah mengkritik serangan Iran terhadap mereka selama konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Hal ini menunjukkan kompleksitas posisi Tiongkok di kawasan tersebut, di mana kepentingan ekonomi seringkali lebih dominan daripada aliansi militer.

