Internationalmedia.co.id – News – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas yang menguak adanya kesalahpahaman serius antara Washington dan Teheran terkait perjanjian gencatan senjata. Vance secara eksplisit menegaskan bahwa Lebanon sama sekali tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan yang sedang dinegosiasikan antara AS dan Iran.
Menurut laporan yang dihimpun internationalmedia.co.id dari Reuters dan Times of Israel pada Kamis (9/4), Vance menjelaskan bahwa para negosiator Iran tampaknya memiliki asumsi keliru. Mereka meyakini bahwa gencatan senjata antara Iran dan AS akan secara otomatis mencakup penghentian operasi militer terhadap Lebanon. Namun, Vance dengan tegas menepis anggapan tersebut.

"Ini berakar dari kesalahpahaman yang sah," ujar Vance kepada awak media sebelum keberangkatannya kembali ke AS dari Hungaria. "Saya kira Iran menganggap gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, padahal kami tidak pernah membuat janji semacam itu. Kami juga tidak pernah mengindikasikan bahwa hal itu akan terjadi." Ia menambahkan, fokus utama dari kesepakatan gencatan senjata tersebut adalah pada Iran itu sendiri, serta perlindungan terhadap sekutu-sekutu Amerika, termasuk Israel dan negara-negara Arab Teluk.
Pernyataan Vance ini selaras dengan fakta di lapangan, di mana Israel hingga kini belum menunjukkan sinyal publik akan menahan operasi militernya di Lebanon. Bahkan, sehari sebelumnya, pada Rabu (8/4), Israel melancarkan gelombang serangan terbesar ke Lebanon sejak konflik pecah, semakin memperjelas posisi mereka.
Vance juga tidak segan-segan memperingatkan bahwa keberlanjutan negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran berada di ujung tanduk. Jika Teheran tetap bersikeras untuk memasukkan Lebanon ke dalam perjanjian, negosiasi tersebut terancam batal. "Jika Iran memilih untuk membiarkan negosiasi ini kandas… hanya karena Lebanon, yang sebenarnya tidak memiliki kaitan langsung dengan mereka… itu sepenuhnya adalah pilihan mereka sendiri," pungkas Vance, menekankan konsekuensi dari sikap Iran.

