Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Rusia secara vokal mengecam agresi militer Israel terhadap wilayah Lebanon, terutama di tengah berlangsungnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Moskow mendesak agar penghentian serangan di Lebanon menjadi bagian integral dari perjanjian damai tersebut, menegaskan pentingnya dimensi regional dalam setiap kesepakatan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis (9/4/2026), seperti dilansir AFP. Dalam siaran pers resminya, pemerintah Rusia menyatakan "keyakinan kuat bahwa perjanjian-perjanjian ini memiliki dimensi regional dan, secara khusus, berlaku untuk Lebanon". Senada, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, turut mengutuk keras serangan Israel. Ia memperingatkan bahwa "tindakan agresif semacam itu berpotensi menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung" antara pihak-pihak terkait.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya. Ia menegaskan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran "di mana pun diperlukan". Pernyataan ini disampaikan pada Kamis (9/4), sehari setelah gelombang serangan besar-besaran Israel menghantam Lebanon.
Melalui akun X pribadinya, Netanyahu menulis, "Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan kegigihan. Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel – kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel."
Serangan yang terjadi pada Rabu (8/4) itu mencakup area padat penduduk di ibu kota Lebanon, Beirut, menjadikannya gempuran terbesar Israel sejak kelompok Hizbullah bergabung dalam konflik Iran melawan AS-Israel pada awal Maret lalu. Militer Israel (IDF) mengklaim telah melancarkan gelombang serangan udara terbesar ke Lebanon, menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah dalam kurun waktu 10 menit. Wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa di bagian timur menjadi sasaran utama.
Dampak kemanusiaan dari serangan ini sangat memprihatinkan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 182 orang meninggal dunia dan 890 lainnya luka-luka akibat gempuran terbaru. Angka ini menambah panjang daftar korban jiwa sejak Israel memulai serangannya ke Lebanon enam pekan lalu, yang kini mencapai 1.700 orang meninggal dunia, termasuk 130 anak-anak, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon.

