Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Militer Israel (IDF) mengumumkan keberhasilannya menewaskan seorang tokoh kunci Hizbullah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Ali Yusuf Harshi, penasihat pribadi sekaligus keponakan dari pemimpin Hizbullah Naim Qassem, dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan IDF di Beirut, ibu kota Lebanon, pada hari Rabu lalu.
Menurut pernyataan resmi IDF yang dikutip dari Reuters dan Al Arabiya, Harshi bukan sosok sembarangan. Ia digambarkan sebagai "rekan dekat dan penasihat pribadi Qassem" yang memegang peran sentral dalam pengelolaan dan pengamanan kantor pemimpin Hizbullah tersebut. Kematiannya menandai kerugian signifikan bagi struktur kepemimpinan kelompok militan yang didukung Iran itu.

Selain menargetkan Harshi, IDF juga mengklaim telah melancarkan serangan masif terhadap infrastruktur Hizbullah lainnya. Mereka menyebut telah menghantam "dua penyeberangan utama" yang vital bagi pergerakan senjata Hizbullah ke selatan Sungai Litani, serta sepuluh lokasi penyimpanan senjata, peluncur, dan pusat komando di wilayah Lebanon selatan.
Serangan pada hari Rabu tersebut menandai eskalasi signifikan, menjadikannya gempuran terbesar yang dilancarkan Israel ke Lebanon sejak kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, secara resmi terlibat dalam konflik pada awal Maret lalu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup kelompok Hizbullah di Lebanon, mengindikasikan bahwa operasi militer terhadap mereka akan terus berlanjut.
IDF sendiri menggambarkan gelombang serangan udara terbaru ini sebagai yang terbesar, mengklaim telah menghantam lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah hanya dalam kurun waktu 10 menit. Target-target tersebut tersebar di beberapa wilayah strategis, termasuk pinggiran selatan Beirut yang padat penduduk, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa di bagian timur.
Namun, di balik klaim keberhasilan militer Israel, dampak kemanusiaan dari serangan ini sangat memprihatinkan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa gempuran terbaru ini telah menewaskan sedikitnya 182 orang dan melukai 890 lainnya. Angka ini menambah panjang daftar korban jiwa sejak Israel melancarkan serangannya ke Lebanon enam pekan lalu, yang totalnya telah mencapai 1.700 orang meninggal dunia, termasuk 130 anak-anak, menurut data yang sama.
Insiden ini semakin memperkeruh situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon, mengisyaratkan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

