Sebuah perkembangan mengejutkan muncul di kancah geopolitik Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu. Kabar ini segera memicu respons dari Israel, sekutu dekat AS, yang menyatakan dukungannya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Tel Aviv, melalui Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyambut baik keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menangguhkan serangan udara terhadap Iran sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Dukungan Israel ini tidak datang tanpa syarat. Kantor PM Netanyahu secara eksplisit menyatakan bahwa penangguhan pengeboman AS terhadap Iran merupakan bagian integral dari kesepakatan gencatan senjata, dengan syarat utama Teheran segera membuka kembali Selat Hormuz. Jalur perairan vital ini, yang krusial bagi pasokan minyak dan gas global, telah terdampak signifikan oleh konflik. Selain itu, Israel menuntut penghentian semua serangan Iran terhadap AS, Israel, dan negara-negara lain di kawasan.

Lebih lanjut, pernyataan dari kantor Netanyahu yang dirilis pada Rabu (8/4/2026) ini menegaskan dukungan Israel terhadap upaya-upaya AS dalam memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, dan teror bagi Amerika, Israel, serta negara-negara Arab tetangga dan dunia pada umumnya.
Pengumuman dari kantor PM Israel ini datang sekitar empat jam setelah Presiden Trump sendiri mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran melalui platform media sosial Truth Social pada Selasa (7/4) malam waktu AS. Dalam pernyataannya, kantor Netanyahu juga menekankan bahwa Amerika Serikat telah meyakinkan Israel mengenai komitmennya untuk mencapai tujuan-tujuan bersama ini, yang dipegang erat oleh AS, Israel, dan sekutu regional Israel, dalam negosiasi yang akan datang.
Namun, ada satu poin penting yang menjadi sorotan dan memerlukan klarifikasi. Kantor Netanyahu secara tegas berusaha menekankan bahwa gencatan senjata dua minggu tersebut tidak mencakup Lebanon, yang merupakan markas besar kelompok Hizbullah. Hal ini bertolak belakang dengan pengumuman sebelumnya oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator dalam konflik AS-Iran. Sharif sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata itu mencakup "di mana pun termasuk Lebanon". Perbedaan pandangan ini menambah lapisan kompleksitas pada kesepakatan yang baru saja tercapai, menggarisbawahi tantangan dalam mencapai perdamaian di kawasan yang bergejolak.

